Rss Feed

FLIGHT : 702

Saat itu aku terdiam, lesuh dan tak kuasa menahan rasa marahku. Pesawat Flight 702 yang akan membawaku pergi begitu saja. Memang aku hanya terlambat 10 menit, tapi tidak ada salahnya bila mereka menungguku. Aku pun merasa emosi apalagi pihak penerbangan begitu saja menghanguskan tiketku tanpa uang pengganti. Aku hanya bisa terduduk merapati nasib sialku hari ini.

Seorang pria yang tak pernah kukenal, santai sambil membaca Koran. Ia memperhatikan sembunyi-sembunyi menggerulutu pesawat airlines yang hendak kutumpangi, aku melihatnya sambil berkata

“Apa liat-liat?” ujarku.

Dia terdiam hanya menatapku lalu membuang muka sambil membaca Koran. Kuhubungin kakakku berkata bahwa aku tertinggal pesawat, ia terkejut tapi mengatakan akan datang menjemputkan dua jam lagi. Aku hendak bilang pulang dengan taksi, ia marah dan berkata bahwa sekarang keadaan taksi sangat rawan apalagi kamu masih mudah dan cantik.

Akhirnya aku menunggu, kuperhatikan wajah pria itu disampingku. Dia berkata sambil tersenyum.

“ Tertinggal pesawat ya?”
“ bukannya dari tadi kamu sudah tau ?” jawabku sinis.
“ Ya. Saya mendengar pembicaraan kamu jadi saya tau!”
“ Lalu untuk apa lagi bertanya?”
“ Saya hanya ingin bertanya dan berkata kalau kamu tidak sendirian, saya pun sudah tertinggal pesawat. Jadi kita nasibnya sama..”

Aku terdiam dan berpikir bagaimana bisa pria ini bersikap santai , padahal tiket menuju Eropa itu sangat mahal. “Mungkin dia kaya” pikirku dalam hati.

“ Tujuan pesawat kamu apa?” Tanya pria itu
“ Flight 702 menuju Belanda, kamu?”
“ Aku juga Flight 702 menuju Belanda, mau ngapain ke Belanda?” tanyanya padaku
“ Ya aku mau ketemu saudara aku, ada urusan penting sambil holiday, sekarang semuanya habis begitu saja..!”
“ Sudahlah terima saja.. kita tidak mungkin menarik waktu lagi untuk mundur, karena pesawat juga harus sesuai waktu..!”
“ Ya aku tau.. “ ujarku pada pria yang seperti guru itu.

Dia tersenyum padaku dan aku mulai berpikir pria ini gila
“ Kok kamu bisa sih, senyum2 aja padahal ketinggalan juga..!”
“ Aku sebenarnya tidak tertinggal, tapi  sengaja meninggalkan pesawat!”
“ What..? maksudnya?” ujarku kaget.
“ Ya, aku memang sengaja tertinggal pesawat!”
“ Kamu sudah gila ya? Lalu buat apa kamu pergi!”
“ Ya biar ada sensasi tertinggal pesawat, ternyata biasa aja..”

Aku mundur selangkah dari jaraknya, mulai berpikir pria ini tiak waras. Sambil berkata
“ Aku mau pergi dulu ya..!”
“ Mau kemana..?”
“ Mau ke toilet..!”
“ Boleh saya ikut..”
“ Kamu kan pria, saya wanita, kita berbeda kamar toilet..!”
“ Tidak apa saya mau ikut saja..”

Aku berjalan dan dia mengikutiku, aku masuk ke toilet dan saat keluar dia juga ada di hadapanku. Tersenyum padaku, sambil berkata

“ Kamu sudah makan?”
“ Belum..”
“ Aku traktir makan sushi disamping mau..!”
“ Boleh..” kebetulan perutku kosong

Kami makan dan aku mulai merasa pria ini baik,  ia bernama Hendra dan dia bercerita kalau dia adalah seorang pemain bola yang sedang istirahat. Ia sudah terbiasa dengan pesawat terbang karena setiap harinya ia memang sering berpergian dengan pesawat untuk bertanding dari satu kota ke kota lainnya. Lalu tujuan dia ke Belanda saat itu hanya ingin menemui kekasihnya, tapi sebelum ia pergi kesana, kekasihnya sudah memutuskan dia satu jam sebelum berangkat.

Bisa saja ia pergi tapi ia akan bersedih hati, untuk itulah ia memutuskan untuk sengaja tertinggal pesawat.

“ Oh begitu ya, tapi mental kamu kuat sekali ya, sudah kehilangan kekasih, ketinggalan pesawat masih bisa tersenyum..”
“ Jangan pernah naik pesawat dalam keadaan bersedih karena kamu akan merasakan stress”
“ Oh ya.. kenapa begitu”
“ Pesawat itu sangat sempit, makanya kalau kamu bersedih hati. Ketika ingin menangis kamu tidak akan bisa punya tempat untuk menangis..”
“ Wah..kamu senstiif sekali..”
“ Begitulah..”

Ia meletakkan tiketnya di meja, sambil berkata.
“ Angel, tiket ini sudah tidak ada artinya. Buat kamu saja..”
“ lah.. untuk apa aku simpan.?
“ Sebagai kenang-kenangan kita pernah berkenalan di pesawat..”
“ Hahaha.. yang benar saja, neh tiketku..” lemparku padanya
“ Simpan tiketku karena ini pun tak ada gunanya…”
“ Janganlah.. kamu simpan keduanya saja, kata sahabat aku yang kerja di travel, kalau kamu punya dua tiket hangus, kamu bisa dapat dipensasi kembali uang sebesar 40 persen. Itu kan lumayan..”
“ Masa sih..”
“ Iya.. simpan saja lah..!”
“ Ya sudah kalau gitu, kalau kamu bohong awas ya..!”
“ Seumur hidupku, aku tidak pernah bohong.. percaya deh..”

Aku menyimpan tiket kami berdua di saku celanaku, Kami berbincang ceria, aku pun jujur padanya. Kalau aku sebenarnya sedang patah hati, keputusanku pergi ke Belanda sebenarnya untuk melarikan diri dari kenyataan kalau kekasihku pergi meninggalkan aku. Kalau saja aku tetap di rumah aku akan bersedih, makanya aku ambil semua simpanan uang di rumahku dan pergi menuju Belanda untuk menenangkan diri.

“ Bukannya aku sudah bilang sama kamu, jangan pernah naik pesawat dalam keadaan bersedih hati..”
“ Ya aku bakal lebih bersedih hati kalau tetap dirumah..”
“ Angel percaya deh, kamu akan merasa bersyukur berada di rumah kamu..”
“ Ya buktinya toh emang ga jadi pergi kan, sudah rugi cinta, rugi uang pula aku..”
“ Tapi kamu kan tidak rugi karena mengenal aku” ledek Hendra
“ Ih,, kamu percaya diri sekali.. ya walaupun aku tidak kenal kamu, tapi aku senang sih ada teman berbagi sambil makan sushi gratis..!”
“ Nikmatilah hidup ini dengan bahagia, karena kamu akan bersyukur kalau kamu masih bisa merasakan cinta lain toh..”
“ Mungkin.. Saja,”
“ Yuk kita lupain yang namanya sakit hati, kita minum sebanyak mungkin..”
“ Dengan senang hati..”

Kamu bersulang, dan minum sake Jepang sambil membicarakan banyak hal, tiba-tiba aku melihatnya menangis. Air mata terpendam darinya..

“ Kenapa kamu menangis..?” tanyaku padanya.
“ Aku sedih.. karena tidak bisa menyampaikan pesan terakhirku pada seseorang..”
“ Siapa.. gadis yang memutuskan kamu..”
“ Iya.. Sebenarnya aku ingin katakan sesuatu padanya, tapi sepertinya tidak mungkin lagi..”
“ Memang apa yang ingin kamu katakan, boleh aku tau..”
“ Aku ingin katakan kalau aku tidak pernah bermaksud menyia-yiakan cintanya, karena aku terlalu sibuk dengan kegiatanku, semua yang aku lakukan hanya untuk membuktikan bahwa kelak aku ingin membuatnya bahagia..”

“ Jadi maksud kamu, kamu sibuk sebenarnya untuk dia..”
“ Ya aku ingin wujubkan mimpi kita berkeliling eropa, makanya aku ke Belanda. Memberi tiket ini dan menghabiskan waktuku bersama dia. Ternyata tidak bisa..sedih aku..”
“ Gadis itu pasti beruntung memiliki pria seperti kamu..”

Aku terdiam memberikan dia semangat, lalu mengatakan padanya.
“ Ayo dong semangat, kan kita bernasib sama.. patah hati tapi tidak boleh patah semangat..”
“ Kamu benar Angel.. kita tidak boleh patah semangat, mungkin aku bisa memaksa untuk berjumpa dengannya walau Cuma sekali dan berkata semua yang aku lakukan selama ini hanya untuk dia..”
“ Ya kamu bisa pergi kesana lagi kan.. terserah nantinya dia terima atau tidak yang penting kita sudah berusaha untuk memberitahu kan dia..”
“ Ok.. kamu benar.. Angel boleh aku berpesan padamu untuk terakhir kalinya..?”
“ Berjanjilah padaku jangan kamu bersedih hati saat kamu menaiki pesawat lain kali.. apapun alasan itu tundalah, lebih baik kamu kehilangan uang kamu daripada kehilangan hati kamu karena bersedih.”
“ Iya.. aku ingat deh..”

Angel bersulang padanya untuk terakhir kali, karena suara telepon kakaknya mulai berdering dan ia meminta izin untuk mengangkat telepon di luar.   Kakaku berkata ia sudah berada diluar untuk menungguku pulang, aku pun hendak berpamitan dengan Hendra dan mengucapkan terima kasih atas makan sushi tadi. Tapi ketika aku kembali ketempat itu, pria itu sudah tidak ada.

“ Dia cepat sekali menghilang..dasar..”

Aku mendekati kasir dan bertanya tentang pria itu, kasir itu hanya berkata pria itu mungkin ke toilet. Aku pun menunggu karena kakakku akan datang ke tempatku, sadar tak sadar aku tertidur karena lelah menunggu. Seseorang menepuk pundakku, sambil berkata

“ Kakak sakit ya..” tanyanya
“ Hah.. aku tertidur..”
“ Iya kakak tertidur, memang kakak ga mau naik pesawat? Makanya saya bangunkan..”
“ Saya sudah tertinggal pesawat?”
“ Oh ya.. pesawat kaka memang mau kemana?”
“ Saya mau ke Belanda, teman saya tadi juga tertinggal.. kami bernasib sama..”
“ Loh kakak daritadi kan sendiri dan setau saya pesawat ke Belanda akan terbang beberapa saat lagi kan, baru saja operator memanggil pesawat Flight 702 menuju Belanda untuk segera memasuki pesawat..”
“ Masa sih.. jadi tadi aku bermimpi dong..”
“ Mbak ngigo kali ya.. sana berangkat nanti tertinggal benaran loh..”

Aku mengucapkan terima kasih dan dengan cepat menuju kabin pesawat, aku baru ingat, aku datang terlalu pagi dari jadwal pesawatku. Itu karena kakakku terburu-buru dengan meetingnya sehingga mengantarkanku lebih awal. Tapi mimpi tadi sungguh membuatku bingung, akhirnya aku duduk di pesawat menuju Belanda. Menghela nafas memperhatikan pria tua yang duduk searah bersama kursiku.

Saat aku menghela celana sakuku, seperti ada sesuatu yang menganjar, aku menarik kertas itu dari sakuku dan memperhatikan

FLIGHT 702 : HENDRA

Ini adalah tiket pesawat Hendra pria yang mampir dalam hidupku, mengapa tiket ini ada disakuku, aku dekati pramugari dan memberikan tiket ini padanya. Wanita itu berkata, tidak ada penumpang bernama Hendra dan dia berkata padaku.

“ Pesawat akan segera terbang kak, jadi silakan kembali ke kursi anda..”
“ Saya yakin orang ini ada.. bisa saya keluar dulu dari pesawat ini..”
“ tidak bisa pesawat akan segera terbang..kembalilah ke kursi anda..”

Aku terduduk dan berpikir maksud daripada tiket ini ada padaku, aku mulai teringat oleh pesannya padaku “ jangan pernah naik pesawat dengan keadaan bersedi hati”, tapi aku yakin Hendra ini memang ada, aku pun tak mempedulikan lagi pesawat ini, segera keluar dari ruangan pesawat itu dan membuat pramugari hanya bisa marah-marah , tapi aku tidak peduli. “ anda akan ditinggal pesawat” peringat pramugari itu, “silakan” jawabku.

Aku berlari sepanjang lorong bandara, dan memperhatikan setiap sudut. Hingga akhirnya aku teringat kursi dimana pertama kali kami bertemu, aku terduduk merenung kembali setiap ingatan mimpi itu seperti sebuah kenyataan. Kuperhatikan setiap isi lembaran tiket itu, dan pesawatku benar-benar meninggalkan aku. Mungkin aku bodoh karena percaya pada instingku bahwa Hendra benar –benar ada.

10 menit pesawat FLIGHT 702 Berjalan, sebuah pesawat lain bearahan mendarat dan terjadi tabrakan yang menewaskan semua penumpang dua pesawat itu, kejadian itu terjadi dimataku sendiri. Astaga.. aku terkejut dan pingsan begitu saja. Setelah aku sadar aku sudah berada di sebuah rumah sakit, keluargaku memelukku dengan erat dan bahagia, mereka pikir aku adalah korban. Ternyata tidak, setelah kuperhatikan televise menayangkan daftar korban tertera nama Hendra, ternyata dia tewas bersama pesawat lainnya.

Aku sungguh berduka dan benar-benar tak percaya dengan semua ini, seorang gadis tanpa menangis saat aku bertandang ke rumah duka, orang-orang berkata bahwa gadis itu adalah kekasihnya. Aku mendekatinya dan berkata

“ Hendra memberikan ini padaku dan berpesan bahwa apa yang ia lakukan selama ini hanya untuk membuat kamu bahagia, ia minta maaf karena tidak punya waktu bagimu tapi ia sangat mencintai kamu” ujarku.

Keberikan tiket itu dan pergi sambil memberikan penghormatan terakhir untuk orang yang telah menyelamatkan jiwaku dengan sebuah pesannya.

0 comments: