Rss Feed

THE HAPPINESS

 ” Karena  sekeras apapun kesenangan  yang didapatkan karena materi, ia tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan sejati, sebab kebahagiaan  sejati tercipta karena keikhlasan, kasih sayang dan ketulusan sesama untuk saling melengkapi”



Menjadi kaya dalam kehidupan adalah anugerah yang tak ternilai yang kehidupan. Anugerah yang mengajarkan bahwa apapun bisa kita lakukan ketika kita menjadi kaya. Tapi, kaya tidak selalu indentik dengan kebahagiaan. Ada hal lain yang harus dicari dalam kehidupan selain menjadi kaya semata tapi bagaimana membahagiakan diri kita dengan cara melihat kebahagiaan orang lain terlebih dahulu.
Aku kaya dan memiliki segalanya dalam hidup. Tapi semua bukan karena hasil yang aku dapatkan. Warisan yang diberikan oleh kedua orang tuaku saat mereka meninggal karena kecelakaan. Semua yang aku mau dalam kehidupan, selalu aku dapatkan. Entah itu mobil baru, rumah baru atau apapun yang bisa aku miliki kecuali satu hal. Kebahagiaan sejati. Aku melihat sendiri bagaimana orang yang aku cintai, disaat aku sedang tak ada disampingnya dan ia mengatakan bahwa
“ gue Cuma cinta sama duit dia.. mana mau gua sama dia, uda gendut, jelek, pendek, hidup lagi..”
Saat itu, aku hancur tak kuasa menahan rasa sakit hati. Ia yang aku cintai, mendapatkan segalanya yang ia inginkan, ia kenakan dan ia impikan. Ternyata hanya mengejar materi yang aku miliki. Hancur karena sikap dan caranya mencintaiku membuat aku kehilangan rasa bahagia. Uang yang aku miliki tidak lagi bisa membuatku bahagia. Mungkin sesaat saat aku menghamburkan uangku, aku bahagia tapi  beberapa saat kemudian aku menjadi hampa. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah dari kehidupanku, menuju tempat pamanku keluar negeri.
Meninggalkan semua apa yang kumiliki untuk mencari kebahagiaan. Ide itu aku dapatkan saat aku berhenti di sebuah jalan di lampu merah kolom jembatan. Aku melihat dua orang pemulung bersama gerobak sampahnya. Walau pasangan itu tidak memiliki apapun, saat pria yang aku rasa suaminya hendak pergi bersama gerobaknya, ia mencium kening sang istri dengan hangat, saat itulah aku sadar. Bahagia tidak harus selalu mewah. Ayah juga pernah mengatakan padaku, bahwa sebelum seseorang menjadi kaya, ia harus menguatkan dirinya dari kekayaan hati barulah jasmani.
Ayah juga memulai hidupnya dari susah dan dari kesusahan itulah ia belajar untuk menjadi lebih baik dan baik sehingga ia menjadi kaya. Tapi aku sejak kecil telah dimanjakan dengan kehidupan, sampai kedua orang tuaku meninggalpun aku tidak pernah merasakan susah. Akhirnya, aku berpikir dalam-dalam sebelum mengambil sebuah keputusan besar untuk mencoba menjadi orang sulit. Atas saran pamanku, aku pun melakukan secara diam-diam.
Saat itulah aku memutuskan untuk meninggalkan rumahku yang besar, kartu kredit milikku, atm dan hanya membawa 700.000 Rupiah sebagai bekal hidupku untuk tekadku selama beberapa hari mencari arti kebahagiaan dengan menjadi orang yang tak memiliki apapun. Aku menukar hidupku dengan supir pribadiku yang lajang dan sederhana. Aku tinggal dirumah susun miliknya, meminjam bajunya yang kebetulan tubuhnya sebesar aku. Aku memindahkan dia dalam rumahku. Di rumah susun kecil itulah aku tinggal. Tanpa alat-alat canggih dan hanya kipas angin kecil yang membuat rumah itu tetap sejuk
Hal pertama yang aku lakukan adalah, mencoba membayangkan tidur dirumah yang kecil dan tanpa AC ini dalam hidupku malam itu, nyatanya aku tidak sanggup tertidur. Saat aku memejamkan mata. Pintu rumah terketuk kencang, aku keluar dan membuka pintu. Melihat seorang ibu yang ragu ketika melihatku keluar dari rumah.
“ ada apa ya bu?”
“ maaf saya pikir mas jamil ( supirku)..”
“ pak jamil keluar kota.. saya sepupunya Seno.. ada apa bu?” kataku berpura-pura.
“ saya mau minta tolong, seperti biasa.. kalau malam pak jamil suka bantuin jaga keponakan saya..”
“ oh begitu..emang ibu mau kemana?”
“ mau kerja mas.. ya sudah tak apa.. saya pamit dulu..”
Terlintas olehku menjadi ingin tau dan membantu setelah melihat wajah ibu itu kecewa.
“ Bu.. kalau gitu biar saya yang jagain keponakan ibu aja.. gimana?”
Ibu itu tersenyum lalu mengantarkan aku ke rumahnya yang hanya berbeda dua blok dariku. Saat aku melihat keponakannya aku baru sadar, keponakannya sangat istemewa. Ia mengalami autis. Namanya Hendra. Gemuk dan usianya sudah 14 tahun. Aku menjaganya, ibu yang bernama Maria itu mengatakan bahwa ia akan bekerja hingga pukul 12 malam dan kembali lebih awal. Aku tidak berani bertanya perkerjaan yang ia lakukan. Saat itu pukul 8 malam. Ibu itu berpamitan pada Hendra. Meninggalkan kami berdua.
Aku bermain beberapa permainan dengan Hendra. Tak kusangka supirku jamil begitu baik hati hingga rela menjaga Hendra disaat ibu itu bekerja. Tiba-tiba perutku terasa lapar, aku pun mengajak Hendra untuk makan dibawah rumah susun. Kami makan nasi goreng di jalanan. Hendra walau autis tapi bisa diajak bicara dengan baik. Ia bicara singkat bahwa ibu Maria adalah penyanyi hebat. Kami makan bersama. Sampai akhirnya malam tiba ibu maria pulang lebih awal pukul 11. Ia berterima kasih padaku. Aku pun bertanya.
“ ibu maaf, kalau boleh tau ibu kerja apa ya semalam ini?”
“ saya kerja jadi cleaning service di klub malam. maaf ya..merepotkan..”
“ oh saya yang harus minta maaf. “
Kami sempat bercerita dan aku mengerti mengapa ia bekerja, Hendra yatim piatu sepertiku. Ibu maria masih muda dan belum memiliki anak ketika ia ditinggal pergi suaminya memutuskan untuk merawat Hendra dengan penuh kasih sayang. Ketika pagi ia akan bekerja menjadi tukang cuci dan malam ia akan bekerja sebagai clearning service, usianya sudah 40 tahun tapi ia tidak pernah mengeluh bekerja pagi dan malam untuk kehidupan Hendra. Baginya Hendra adalah kebahagiaan utama dalam hidupnya. Malam itu aku tertidur tapi mendapatkan satu pelajaran bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan menjaga dan merawat orang yang kita sayangi tanpa pambrih.
Keesokan harinya, aku terbangun kesiangan. Perut terasa lapar dan mencari makan disekitar rumah susun. Usai santap nasi goreng. Aku tak sengaja melihat beberapa orang tukang kebersihan seperti memasukan seekor anjing yang mati ke dalam mobil sampah. Aku melewatkan hal itu dan Saat aku melihat taman begitu indah terpikir untuk beristirahat menikmati taman di rumah susun, seorang pria tua mendekat padaku. Ia berjalan dengan tongkat perlahan. Matanya terkena katarak, jadi agak sulit melihat.
“ anak muda, kamu melihat Boby main disini..?”
“ kayaknya enggak Kek, daritadi saya sendirian disini. kenapa ya?”
“ si Boby ilang. Padahal kakek mau ajak dia untuk pergi temenin kakek.. biasanya dia pulang kalau sudah jam siang begini.. tapi sudah daritadi dia gak pulang-pulang.. dasar anak nakal”
“ kakek memangnya mau kemana?”
“ untuk apa kamu tanya-tanya, memangnya mau anterin..” kakek itu jutek.
“ ooo enggak kek, Cuma pengen tau..”
Kakek itu berpaling meninggalkanku, belum beberapa langkah tiba-tiba ia nyaris terjatuh karena tersandung batu. Aku mendekat membantunya berdiri tegak.
“ hari ini ulang tahun nenek, kakek harus cepat-cepat kesana.. nanti dia marah..”
Merasa iba dan kasihan. Akhirnya aku pun bersedia mengantarkannya, toh aku tidak tau harus melakukan apapun. Kakek berjalan lambat dan aku menuntunnya. Entah dimana rumah nenek itu, sampai akhirnya aku baru sadar. Kami naik angkot dan berhenti di sebuah pemakaman. Kakek itu ternyata hendak berziarah ke makan istrinya yang sudah meninggal. Istrinya baru meninggal setahun lalu. Kakek itu menghanturkan doa dan kasih sayang begitu dalam walau nenek itu telah meninggal. Kakek bercerita kalau mereka tidak memiliki keturunan dan aku jadi bertanya-tanya siapa boby.
“ boby itu anjing kesayangan kakek dan nenek, walau anjing kampung. Tapi dia sudah kami anggap anak sendiri..”
Aku  ingin tertawa ketika mengetahui bahwa anak yang dicari kakek itu ternyata hanyalah seekor anjing. Akhirnya aku berjanji untuk membantu mencarinya, kakek begitu senang tapi ketika ia menunjukkan ciri-ciri anjingnya. Aku baru sadar, boby adalah anjing yang tadi siang aku liat sedang dibuang tukang bersih karena sudah mati. Aku pun menyembuyikan hal itu, mengantarkan sang kakek hingga ke rumah susun yang sama denganku. Ia berterima kasih padaku, berharap anjingnya pulang. Walau aku tau, tidak akan mungkin kakek bisa bertemu boby lagi.
Aku belajar mengerti arti kehilangan, tapi kakek yang ikhlas ini begitu tabah menghadapi kehidupan. Mecintai orang yang sama dalam kehidupannya walau telah berbeda alam. Kasih baginya terhadap anjing yang sudah dianggap anak sendiri adalah kasih yang sama kepada siapapun. Tak bisa kubayangkan ketika ia sadar, bahwa Boby sudah tiada. Malam itu aku merenung dan seperti hari sebelumnya tanpa keberatan aku merawat Hendra. Hendra yang autis berkata padaku. Satu hal yang membuatku terkejut tentang impiannya.
“ aku ingin seperti yang lain, cepat besar, biar bisa jagain ibu Maria.. mau sekolah.. kuliah dan kerja..” katanya tulus dan aku sadar ini hal yang mustahil. Pendidikan selalu mahal bagi orang-orang seperti Hendra, bahkan terkadang Hendra tidak akan diterima dalam sekolah umum seperti yang ibu Maria katakan padaku. Mungkin itu alasan mengapa ia tidak bersekolah hingga detik ini. walau aku yakin keterbatasannya tidak akan membuat ia berhenti bermimpi.
Aku merenung malam itu, berpikir apa yang terjadi dalam hidupku saat ini berbeda dengan apa yang aku rasakan di hari-hari sebelumnya. Aku juga telah kehilangan kedua orang tuaku dan merasa sendirian terlebih dihianati oleh orang yang aku anggap tercinta. Tapi mereka yang aku temui hari ini telah membuatku merasa lebih beruntung. Esok, aku harus memberitahu kepada kakek tentang nasib Boby. Sebaiknya ia tau sehingga tidak mencari keberadaan Boby.
***
Keesokan harinya…
Saat aku mendatangi kamar susun kakek, ia sedang berada diluar merenung dibalkon. Seorang diri dengan mengusap air mata. Ia melihatku dengan kesulitan, mungkin karena kataraknya. Ia mengatakan padaku tentang kematian boby sebelum aku mengatakan. Aku tau ia bersedih, aku pun bertanya apa yang ia harapkan dalam hidup. Ia hanya ingin bisa melihat dengan sempurna, sayang sekali lagi ia tidak bisa melakukan itu karena biaya operasi yang mahal. Aku ingin membantu, tapi mungkin aku bertahan untuk sementara ini.
Sepulang dari itu, aku melihat sebuah kejadian yang membuat nyari jantungku copot. Aku menemukan seorang perempuan yang hendak melompat dari rumah susun.
“ hei –hei kenapa mau lompat?” teriakku.
“ jangan mendekat.. atau aku lompat..”
“ kenapa mau lompat?”
“ percuma ada di dunia ini, Cuma bisa bikin hati hancur. ..”
Darah terlihat dari tangannya, sepertinya ia habis melukai urat nadinya, tiba-tiba ia hilang keseimbangan dan aku segera menangkap tubuh perempuan itu. Untungnya ia belum sempat naik ke atas balkon dan jatuh ke arah lantai balkon. Aku membawanya ke rumah sakit, dokter mencoba menyelamatkan hidupnya dan wanita itu beruntung dapat hidup kembali. Ketika ia tersadar,  aku mengenalkan diriku padanya, ia menangis disampingku. Bercerita tentang laki-laki yang meninggalkannya setelah tau ia hamil.
“ kenapa harus ambil jalan pintas?”
“ terpaksa, aku malu, hidup dengan keadaan seperti ini?”
“ tapi kamu kan masih muda dan masa depan masih panjang?”
“ dengan anak di perut tanpa ayah? Siapa yang mau kasih makan hidup anak ini?”
Aku terdiam, aku sadar. Hal yang dialami gadis ini sama denganku. Hancur karena cinta. Tapi darinya aku jadi sadar betapa bodohnya bila aku melakukan hal yang sama. Aku tau namanya Angel, ia ketakutan membayangkan masa depannya tapi ia menyesali apa yang telah ia lakukan ketika ia mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya. Saat aku hendak meninggalkan rumah sakit, suster mencegatku untuk memintaku membayar biaya Angel. Aku sadar, aku tidak memiliki banyak uang saat ini. tapi kejamnya kehidupan, bila aku tidak membayar saat itu, maka Angel harus angkat kaki dari rumah sakit itu. Sisa uang terakhirku, aku berikan sebagai jaminan dan aku akan kembali termasuk kartu pengenalku.
Kini aku tidak punya uang sama sekali, bisa saja aku kembali ke rumahku untuk mendapatkan atm dan kartu kredit. Tapi aku sudah berjanji sebelum tiba hariku, aku tidak akan melakukan itu. Aku berjalan pulang jalan kaki sejauh bermil-mil jauhnya sampai kakiku terasa perih, hujan datang membuat aku harus berteduh di halte. Saat itu sudah malam, tanpa aku sadari disampingku terdapat keluarga kecil yang pernah aku yakin pernah kulihat.
Sepasang suami istri yang tinggal dalam gerobak. Mereka melihatku dan pria itu membiarkan istrinya tertidur di gerobak sedangkan ia duduk disamping menjaga agar hujan tidak menimpa gerobaknya dengan papan ditangannya sebagai payung.  Dalam keadaan seperti itu, ia melempar senyum padaku. Hujan pun berhenti dan bajuku basa kuyup. Istri pria itu keluar dari gerobak. Ia membawakan aku sebuah handuk miliknya.
“ Mas, udaranya dingin, gak baik kalau basah kuyup, pakai ini keringin dulu..”
Aku menerima tawaran itu walau sadar handuk itu tidak begitu bersih. Saat tubuhku mulai kering, sepasang suami istri itu menawarkanku makan malam bersama mereka dengan lauk seadanya. Aku memang lapar dan saat melihat nasi dingin dan ikan asin yang mereka santap. Rasanya aku begitu bahagia sekali bisa menyantapnya. Mereka bercerita bahwa mereka tidak memiliki tempat tinggal sejak rumah mereka digusur untuk pembangunan kota. Dalam keadaan sulit dan apa adanya, mereka tetap bersyukur dan bersama. Sesuatu yang tak akan pernah aku temui dalam hidupku sebelumnya. Saat aku hidup, ayah dan ibu terlalu sibuk sehingga mereka tidak pernah bertemu denganku. Bahkan saat meninggal pun aku tidak tau mereka sedang berlibur.
Setelah makan sederhana itu aku pulang, aku kembali dan baru ingat bahwa aku harus menjaga Hendra. Tapi waktu itu sudah malam, saat aku datang untuk mengetuk pintu rumah ibu Maria, ia muncul dan mengatakan bahwa malam ini ia tidak bekerja. Aku lega dan merasa tenang karena ibu Maria menyakinkan aku bahwa ia tidak bekerja bukan karena aku tidak menjaga Hendra, tapi memang ia libur hari ini. aku pun berpamitan dan kembali ke rumah. Saat aku hendak pergi ibu Maria memberikan aku sesuatu.
“ Mas, ini ada uang tak seberapa buat untuk kopi..” katanya padaku.
“ gak usah Bu.. gak usah..”
“ jangan begitu. Ambilah.. rejeki jangan pernah ditolak.”
Aku pun tak menolaknya walau uang itu tak seberapa dan hanya cukup untuk membeli rokok sebungkus tapi setidaknya bisa membuatku makan untuk esok, ibu itu walau hidup dengan kekurangan tapi ia tidak kikir untuk memberikan aku sebagian pendapatannya yang tidak seberapa. Aku melewatkan banyak hal dalam hidupku hari ini. membayangkan mereka yang hidup dengan segelitir masalah tapi mampu bertahan dengan kebahagiaan, aku pun merenung seharian untuk mengambil keputusan bertahan dalam keadaanku seperti hari ini tanpa uang dan tapi mencoba bertahan.
Keesokan harinya, aku kembali ke rumah sakit. Aku senang melihat Angel yang lebih bersemangat dari hari kemarin. Ia mulai membaik.
“ setelah ada kehidupan kedua yang di kasih Tuhan, aku jadi memutuskan untuk terus berjuang sama anak ini.. walau tanpa ayahnya..”
“ aku senang dengarnya.. kamu harus semangat ya..”
“ aku jadi gak enak sama kamu.. kamu gak kenal aku bahkan aku gak tau nama kamu. Kamu uda sibuk ngurusin aku.. sampai biaya rumah sakit kamu yang talangin.. aku berhutang banget..”
“ gak usah dipikirin.. yang penting aku minta kamu lebih bertanggung jawab sama hidup kamu.. dan anak kamu ya..”
“ kalau kamu kasih nama anakku seperti kamu kelak? Kamu keberatan?”
“ ehm.. boleh.. namanya Martin saja..”
“ baiklah akan kuberikan nama itu buat anakku..”
Angel berjanji padaku. Sepulang dari rumah sakit, aku meminta Jamil menjemputku sambil membawa atm dan kartu kreditku. Saat itulah, aku mengambil keputusan dalam hidupku. Membantu mereka semua yang bertahan dalam kekurangan tapi masih berusaha untuk bahagia. Menjadi diriku yang dulu untuk memberikan apa yang bisa kuberikan kepada mereka, sebuah pelajaran yang tentang hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang. tapi pengalaman yang tak ternilai daripada harta kekayaan.
Aku menyerahkan bantuan kepada Angel, uang untuk masa depan dia dan anaknya. Ia menangis saat aku membantunya. Tapi bukan  karena aku memberikan uang yang membuatnya bahagia, tapi melihat ia bermimpi akan masa depannya lah yang membuat ia bahagia.
“ Ada kehidupan kedua yang layak aku pertahankan dan Tuhan telah memberikanku kesempatan untuk itu, kebahagiaan bersama anak yang kelak lahir. Ingatlah cinta tidak selalu bisa menghancurkan kehidupan..karena kehidupanlah yang menciptakan cinta”  katanya padaku dan aku setuju dengan hal itu. Sebab aku pernah hancur karena cinta dan penghianatan. Tidak seharusnya aku menyerah karena cinta, sebab bukan cinta yang membuat segala kebahagiaan tapi biarkan cinta yang melahirkan kebahagiaan apa adanya.
Aku pun berajak pergi menemui dua orang pasangan suami dan istri yang tinggal di gerobak. Mereka menyambutku dengan senyum dan kesederhanan yang sama.  Aku Memberikan rumah susun milik Jamil sebagai rumah mereka. Jamil akan pindah ke rumahku untuk menjaga rumahku saat aku pergi dari tempatku. Aku berharap mereka bahagia tanpa perlu lagi ketakutan melihat air hujan setiap harinya. Mendapatkan tempat yang layak untuk menghabiskan masa masa tua dalam hidup mereka bersama dalam sebuah keluarga abadi.
“ kebahagiaan tidak harus selalu dengan apa yang kita tempati dan gunakan, kebahagiaan bisa ada karena kita yang merasakan dalam keadaan apapun, apapun yang terjadi dalam hidup kami. Kami selalu mencoba bahagia dan bersyukur” kata nenek yang membuatku belajar itu benar.
Melanjutkan perjalananku, aku mengunjungi ibu Maria dan Hendra yang sedang bersama sambil nonton televisi. Aku memberikan Maria tabungan bagi masa depan Hendra. Aku berharap ibu Maria tidak lagi harus bekerja menjadi Cleaning service di klub. Ia bisa membuka warung kecil di dekat rumah susun dengan modal tabungan yang kuberikan. Hendra bisa mendapatkan kesempatan sekolah dalam hidupnya agar ia bisa mencapai impiannya membalas semua jasa-jasa kebaikan ibu Maria.  Mereka bersuka cita dan itu membuatku bahagia melihat mereka tidak lagi harus sedih saling meninggalkan.
“ ketulusan yang mereka berikan padaku, walau hanya memiliki kesederhanaan dan pendapatan apa adanya, mengajarkan aku akan keikhlasan. Keberanian dan kasih sayang tanpa melihat fisik. “  pelajaran yang aku dapatkan dalam kehidupan ibu Maria dan Hendra.
Setelah memastikan mereka mendapatkan kehidupan yang layak dan masa depan yang baik. Aku pun meneruskan tugas terakhir dari orang yang mengajarkan aku untuk kerelaan melepas apa yang hilang dalam kehidupan. Kepada kakek, aku membantu membuat terang di matanya dengan membiayai operasi kataraknya. Aku juga membawa Anjing kecil kesayangan keluargaku yang telah aku pelihara dengan lama  supaya bisa menjadi pengganti Boby yang telah pergi. Aku percaya ia akan merawat dengan penuh kasih sayang dan aku lega melihat masa depan kakek yang tak lagi harus mengunakan tongkat  lagi kelak untuk melihat jalan karena matanya akan menjadi lebih baik dari saat ini setelah operasi katalak.
“ Hidup dengan merelakan orang yang telah pergi dalam hidup kita dengan ikhlas adalah cara terbaik kita untuk meciptakan kebahagiaan, sebab kehilangan bukanlah penyesalan, kehilangan adalah hal yang harus kita jalani dan hadapi” kata kakek padaku.
Aku mengerti, kehilangan orang tuaku memang telah membuatku aku jatuh dalam kesepian tapi bukan alasan untuk tidak melanjutkan kehidupan. Aku harus bisa melanjutkan kehidupan yang seharusnya aku jalanin lebih baik dari hari ke hari. Aku harus ikhlas melepas kepergian ayah dan ibuku dan melihat lebih jauh dengan apa yang bisa aku lakukan untuk membuat nama keluargaku tetap dan dan baik.
Dan aku tidak pernah menyesal mencoba hidupku dalam keadaan titik nol. Karena dari mereka orang-orang yang aku temui, aku mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu karena materi, tapi kebahagiaan bisa kita dapatkan dengan cara membuat orang lain menghargai kita.
Aku pun pergi, pergi meninggalkan tanah air untuk menemui pamanku disana setelah mengerti bagaimana mencari kebahagiaan sesungguhnya. Memulai hidupku sebagai orang yang tidak hanya berpikir kebahagiaan hanya karena harta, tapi mungkin ada hal lain yaitu.
Kasih sayang, ketulusan dan kesederhanaan.
tamat
READ MORE - THE HAPPINESS

MY STEP BROTHER

 ” Apa dan bagaimana siapapun yang hadir dalam hidup kita, entah begitu kelamnya sejarah yang ia miliki, bukan kita yang pantes mengatakan ia baik/buruk. hanya Tuhan yang menilai dan waktu yang  membuktikan akan jadi apa ia dalam hidup kita sebagai takdir”
Agnes Davonar


Aku adalah seseorang yang bebas melakukan apapun yang aku sukai. Kuliah di luar negeri, berfoya-foya di saat malam minggu dan menikmati masa mudaku sebagai laki-laki tanpa harus peduli bagaimana aku memikirkan masa depanku. Semua kulalui dengan baik-baik saja sampai akhirnya, hidupku serasa berhenti ketika semua kebutuhan dan kesenanganku hilang. Tidak ada lagi uang di ATM pribadiku, tagihan kartu kredit membengkak dan uang kuliah belum terbayar. Tidak seperti biasanya, ayah akan mengirimkan uang kepadaku, tapi tiba-tiba tanpa alasan semua ia hentikan.
Karena mustahil bagiku hidup diluar negeri dengan dompet kosong, aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mencari tau mengapa semua kebutuhanku lenyap begitu saja.  Aku ingin marah pada ayah, ia mencampakan aku begitu saja tanpa sebab.  Saat aku pulang ke rumah, bukan ayah yang kutemui tetapi malah dua orang yang asing bagiku. Seorang wanita paruh baya dan anaknya.  Mereka seperti mengenalku, tapi aku tidak mengenal mereka. Wanita itu menjelaskan bahwa ia adalah istri ayahku dan anaknya adalah adikku.
Ibu memang sudah meninggal sejak aku kecil. Tapi selama ini, yang aku tau. Ayah tidak pernah menikah lagi. Tapi ternyata ia mampu menyembuyikan dariku selama 18 tahun dengan wanita itu sampai melahirkan adik tiriku bernama Hendra 3 tahun lebih muda dariku. Saat aku pindah kuliah ke luar negeri, ayah membawa mereka untuk tinggal dirumah. Lalu pertanyaanku? Dimana ayah? Mengapa hanya ada mereka dalam rumahku.
“ Chandra, ayahmu sudah sejak tiga tahun lalu gak pulang-pulang.. tante juga gak tau kemana ayah kamu.. ia memang mengirimkan uang ke kami tapi sama seperti kamu sejak beberapa bulan terakhir dia gak kasih apa-apa ? untuk menyambung hidup kami hanya mengadarkan tabungan ” jelasnya padaku.
Mendengar cerita ibu tiriku, sepertinya aku tau.  Ada masalah besar dalam keluargaku. Ayah melarikan diri dari keluarga untuk alasan yang tidak aku mengerti, bisa saja ia bangkrut atau mungkina da wanita lain. Aku kecewa dengan sikap ayah yang tidak bertanggung jawab. Hidupku seperti berubah 180 derajat ditambah dengan dua orang asing yang tinggal serumah denganku. Aku mencoba beradaptasi dengan makanan sederhana, adik tiri yang tampak gemulai dan lemah. Tapi kadang ia berguna juga saat aku menyuruhnya melakukan perkerjaan seperti membersihkan kamar dan membeli apa saja yang aku mau.
Waktu berjalan, suatu hari aku bertengkar hebat dengan Hendra hanya karena masalah sepele. Aku menyuruhnya untuk membeli rokok di warung, tapi ia tidak kembali setelah aku menunggu dua jam lamanya.  Aku menjadi marah saat melihatnya pulang tanpa membawa rokok yang kuinginkan.
“ gua suruh loe beli rokok, bukan suruh loe jalan-jalan.. kenapa baru sekarang loe balik.. uda 2 jam..!! terus rokok yang gua suruh beli pun gak ada?”
“ tadi.. gue uda beli tapi..”
“ tapi kenapa?”
“  gua di todong sama anak jalanan..”
Mendengar Hendra ditodong oleh anak-anak jalanan sekitar komplek, aku menjadi marah. Lalu aku memaksanya untuk mengantarkan aku mencari anak-anak itu. Aku berhasil menemukan anak-anak jalanan ini dan berkelahi dengan mereka. Saat aku merasa menang dalam perkelahian itu, tiba-tiba satu diantara anak-anak itu mulai mengambil kayu padat dan mencoba menghajarku di belakang badan, Hendra berlari melindungiku, badannya terhantam kayu padat dan tiba-tiba ia tergeretak jatuh pingsan dengan mulut mengeluarkan darah segar. Mereka semua lari melihat kejadian itu dan aku langsung membawa Hendra ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian ibu tiriku tiba di rumah sakit. Aku bercerita semua kejadian itu dan ia marah padaku. Aku hanya terdiam dan merasa bersalah. Hendra jadi seperti ini karenaku. Ibu bukan marah karena masalah ribut bersama anak-anak jalanan tapi ada hal lain. Aku jadi tau, mengapa Hendra begitu lemah dan terlihat tak seperti diriku yang kuat.
“ adikmu itu sejak kecil mengalami gagal jantung.. ia tidak boleh terlalu lelah dan ayahmu sudah mencoba banyak hal untuk menyembuhkan tapi gagal.. selamanya ia akan seperti itu..ditambah dengan kejadian hari ini.. tante jadi takut..”
Aku terdiam, merasa bersalah. Andai saja aku tau lebih banyak tentang penyakitnya, mungkin aku tidak akan membuat kejadian seperti tadi terjadi. Nasi telah menjadi bubur, Hendra dirawat beberapa hari sampai Dokter menyatakan ia boleh dipulangkan. Aku beruntung, ia bisa melewati masa kritis dan bangkit walau hal pahit harus dikatakan oleh dokter.
“ Umur Hendra tidak dapat diprediksi, hanya Tuhan yang tau bagaiaman ia akan terus hidup, tapi saya boleh katakan jantungnya hanya berfungsi 30 persen dengan baik..”
Ibu tiriku sepertiku sudah kuat menerima keputusan vonis itu. Ia hanya mencoba bersabar. Saat Hendra bangun, aku mendekatinya. Ia menatapku.
“ loe kenapa gak bilang kalau loe sakit..?”
“ gapapa.. lagian sakit ini Cuma di dalam.. gak perlu dicerita-cerita.. “
“ kenapa loe ngelindungi gua,, padahal gua kan suka jahat sama loe..”
“ hm.. kita kan saudara.. sampai mati pun kita tetap saudara.. hal yang gak akan bisa diubah oleh apapun..”
Aku tersentuh oleh kata-kata terakhirnya, ia sepertinya tidak marah padaku walau sikap dan caraku padanya selalu tidak baik. Setelah dirasa cukup sehat. Hendra pun diizinkan pulang. Mulai saat itu aku bertekad menjadi kakak yang baik, walau aku tau. Ia hanya adik tiriku. Tapi ia adalah orang yang ditakdirkan memiliki darah yang sama denganku. Ayah yang sama dengaku dan perjuangan hidup yang sama denganku. Aku memutuskan untuk bekerja freelance sebagai desain grafik sesuai keahalian kuliahku.  Aku hanya ingin Menabung untuk mencoba mandiri. Tidak enak hati bagiku untuk meminta dengan ibu tiriku, sebab tentunya ia harus membiayai pengobatan Hendra yang mahal dari tabungannya.
Keadaan Hendra tak kunjung membaik, ia mulai sering merasa pusing dan lemas begitu saja. Ibu dan aku hendak merayakan hari ulang tahunnya ke 18.  Dengan makan keluarga kecil, aku berharap ia bahagia saat itu. Aku memberikan kado kecil buku motivasi. Kami merayakan dengan bahagia dan permintaan ulang tahunnya kepada Tuhan pun sangat sederhana.
“ Rahasia..” katanya padaku dan ibu yang diam seribu bahasa.
Usai perayaan kecil, Malam itu Hendra membaca di teras rumah, aku mendekatinya. Ia melihatku dan berkata.
“ hidup gue gak lama lagi..?” dengan nada putus asa.
“ kenapa bilang begitu?”
“ gua lebih tau gimana hidup gua, karena penyakit itu ada di tubuh gua.?”
“ terus.. loe merasa putus asa gitu aja?” kataku.
Ia terdiam, melempar buku motivasi yang kuberikan padanya.
“ gua gak butuh buku ini, gua cuma pengen satu hal dalam hidup  gua sebelum mati..?”
Aku marah dan kesal melihat sikap Hendra yang membicarakan kematian..
“ Ok!! Loe mau apa? “
“ gua mau ketemu bapak..?” katanya singkat..
Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Permintaan sederhana yang sesungguhnya aku sendiri tidak akan bisa menjawabnya sebab sampai detik ini aku tidak pernah dimana ayah  kami berada.
“ buat apa ketemu dia?” tanyaku
“ gua pengen dia tau. 3 tahun gua gak pernah liat dia, sejak kecil pun dia selalu sibuk sampai jarang ngeliat gua. Gua Cuma takut, kalau gua mati tanpa ngeliat dia,  gua gak akan mati dengan bahagia.. gua gak ikhlas..”
“ Cuma itu yang bisa bikin loe bahagia, ketemu bapak? Bener Cuma itu aja..”
“ Asal loe tau.. permintaan gua rahasia tadi Cuma itu. Bahagia sebelum mati ketemu bapak..”
Hendra menangis, sepertinya aku tau. Itulah harapan terakhir dalam hidupnya dalam keputus asaan. Malam setelah pembicaraan itu, aku memutuskan untuk mencari ayah melalui saudara-saudara ayah. Entah mengapa aku begitu ingin memenuhi keinginan Hendra. Merasa bahwa naluriku mengatakan hidupnya tak lama lagi, aku tidak ingin merasa bersalah dalam hidupku menyebabkan orang yang telah melindungiku sekaligus adikku tidak bahagia sebelum ia pergi dalam hidupku.
Aku berhasil mencari tau keberadaan ayah walau tanpa kepastian, ia ada di kota Surabaya tepatnya di rumah bibiku yang pernah aku singgah saat lebaran waktu kecil.  Aku pun bercerita kepada Hendra. Ia terlihat senang dengan ideku untuk membawanya bertemu dengan ayah. Tapi kami juga sadar, ibu tidak akan pernah mengizinkan kami pergi, apalagi dengan keadaan Hendra yang seperti saat ini.  Masalah lain, Hendra trauma naik pesawat terbang karena pernah nyaris mengalami kecelakaan sehingga ia tidak akan pernah bisa naik pesawat terbang, bila ia dipaksa naik pesawat terbang dan ketakutan malah akan membuat nyawanya terancam.
“ kita bakal pergi dari rumah ini, berdua aja. Diem-diem tanpa ibu tau.. gua bakal sewa mobil. Kita backpacker dari Jakarta ke Surabaya.. setuju?”
Hendra menyukai ide gilaku. Aku mulai merecanakan semua yang akan kami lakukan, menyewa mobil dari rentainer dan menyiapkan semua uang tabungan yang kumiliki. Kami pergi di malam hari saat ibu tertidur. Sampai saatnya tiba rencana itu kami lakukan, Hendra meninggalkan surat terakhir kepada ibu.
“ ibu aku pergi mencari ayah bersama kakak, terima kasih sudah menjaga dan merawatku sejak kecil., aku harus mencari ayah, karena inilah tugas terakhir dalam hidupku.. andai Tuhan memberikan kesempatan panjang aku untuk bertahan hidup.. aku akan kembali meminta maaf kepada ibu. Selamat tinggal ibu.”
Ibu menemukan surat itu di pagi hari disaat ia hendak memberikan Hendra obat, ibu hanya bisa menangis dan kami sudah melakukan perjalanan mencari ayah, melewati jalanan besar sepanjang pulau jawa.
Mencari kebahagiaan dengan menemukan ayah sebagai hal terakhir dalam hidup adikku, Hendra.
***
Kami menempuh perjalanan jauh dengan mobil, Hendra begitu menikmati perjalanan. Ia membuka jendela mobil dan merasakan angin yang berterbangan di udara. Ia tersenyum dan aku bertanya padanya.
“ emangnya sejak kecil loe sama nyokap bokap gak pernah jalan jalan ya?”
“ sejak kecil, sejak tau gue punya kelainan jantung, hidup gua cuma di rumah dan bolak balik rumah sakit.. gak bisa jalan jauh.. lagian mau kemana? Naik pesawat aja gak boleh..”
“ selama ini.. loe tau gak sih kalau loe tuh punya saudara tiri..”
“enggak.. gak sempat kepikiran..”
“ sama.. gua juga gak nyangka bapak diem-diem ama nyokap loe.. tapi ya akhirnya gua jadi tau.. gua gak sendirian di dunia ini.. punya adik juga. Walau..”
“ walau kenapa?”
“ walau nyebelin pas ngeliat loe.. tapi gua baru sadar.. loe itu adik gua.. “
Hendra tersenyum karena hari sudah larut malam. Kami menginap di sebuah hotel. Disamping hotel kami terdapat tempat diskotik. Lampu diskotik menyala terang sampai kamar hotel kami dilantai 2. Hendra memperhatikan jendela kamar hotel. Lalu bertanya padaku, mengapa tempat itu begitu ramai.
“ itu kan diskotik? Emang loe gak pernah kesana..”
“ belum.. “ katanya.
“ jangan bilang loe mau kesana?”
“ mau.. “ katanya dan aku terkejut.
“ seumur hidup gua, gua gak pernah ke tempat gituan. Gua gak mau mati tanpa pernah ngerasain pergi kesana… anterin gua kesana..”
Mendengar kalimat terakhirnya, aku jadi tak bisa melarangnya. Aku memastikan Hendra sudah minum obat sebelum kesana, Untungnya aku sudah membawa semua obat-obat Hendra sehingga selama perjalanan kondisinya terjaga. Saat masuk ke dalam diskotik, aku sudah terbiasa dengan suasana berisik tapi Hendra tidak begitu. Ia mencoba menikmati, tanpa kami sadari, diskotik itu ternyata menyajikan tarian striptis. Saat aku merasa penari stripis cantik itu menggodaku, aku kesal dan pergi. Aku menarik Hendra yang memperhatikan adegan itu. Hendra bertahan, dengan kesal aku menariknya keluar. Hendra tampak marah padaku, dan mempertanyakan kenapa aku menariknya keluar.
“ loe gak boleh nonton gitu-gituan..!!”
“ gua uda gede.. gak salah kan.. lagian itu akan acara utama diskotik disini..”
“ itu bukan acara.. itu gak bener.. kita balik, tidur. Besok masih mau lanjutin perjalanan..”
“ gak mau.. gua masih mau liat..”
“ loe gila ya..dengerin gua dan balik hotel “ aku menarik tangan Hendra, ia marah tapi tak bisa melawan kehendakku.
Malam itu kami tidur tapi Hendra masih marah dan tidak menjawab beberapa pertanyaanku. Aku terbangun di malam hari. Ia tampak kedinginan dan aku menutupi selimut ke tubuhnya yang kedinginan. Alasanku untuk tidak membiarkan Hendra menonton tarian erotis itu karena aku sadar, ia adalah adikku, walau tidak adil sebab aku pernah menontonnya di luar negeri. Tapi ada perasaan di hatiku untuk tidak membiarkan adikku jatuh ke hal buruk seperti yang aku lakukan dulu.
Saat aku terbangun di pagi hari, Hendra sudah tak ada dikamar. Aku panik dan berpikir ia melarikan diri dariku. Aku berlari menuruni lobby dan menemukan ia sedang berbicara dengan seorang perempuan. Hendra menyapaku dan mengatakan bahwa perempuan bernama Angel ini ingin ikut menumpang dengan mobil kita sampai di luar kota. Tapi dari pakaian dan dandanan yang dipakai Angel, aku ingat dengan wajahnya, ia adalah penari striptis yang menggodaku semalam. Aku menarik tangan hendra dan bicara empat mata dengannya.
“ ngapain loe bawa perempuan kayak gitu ikut perjalanan kita..”
“ dia Cuma mau numpang sampai kita keluar kota sini dan mau pulang katanya. Emang salah?”
“ ya salahlah! Loe liat dia dari ujung kepala sampai kaki, itu cewek gak bener! Gua gak sudi..”
“ kakak jangan asal nuduh gitu, dia baik kok. Sopan.. “
Angel tiba-tiba muncul dihadapan kami, mempertanyakan izin menumpangnya. Hendra menjawab
“ kakakku izinin, nanti setelah kami beres-beres kita berangkat..”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hendra terlalu kecil untuk membedakan mana yang namanya perempuan baik-baik dan tidak. Ia pernah bercerita padaku, bahwa ia tidak pernah dekat dengan perempuan selain dengan ibu. Akhirnya, kami bertiga melakukan perjalanan. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, tapi Hendra dan Angel tampak begitu akrab. Mereka bicara panjang lebar dan membahas apa saja yang tak pernah habis dibahas tentang dunia yang membosankan bagiku.
Kami berhenti di toilet umum. Aku menunggu di mobil karena Hendra ingin buang air kecil. Saat di mobil, aku bicara pada Angel.
“ Maaf Angel, adik gua mungkin masih terlalu lugu untuk terhadap perempuan.. jadi kalau bisa gua minta jangan bahas yang topik dewasa..”
“ oo ok.. adik loe baik,. Cuma loe agak pendiam..”
“ gua diam karena gua tau siapa loe.. “ kataku jutek.
Angel terdiam sepertinya ia paham aku tidak menyukainya bersama kami. Hendra kembali dan kami melakukan perjalanan sambil makan siang. Entah mengapa Angel tiba-tiba memiliki alasan bahwa ia tidak bisa pulang ke rumah karena orang tuanya sedang ada keperluan mendadak. Ia malah meminta Hendra izin untuk ikut sampai ke kota Surabaya untuk menemui sahabatnya.  Aku menarik Hendra untuk bicara dan jauh dari angel. Aku menolak dan Hendra langsung memprotes sikapku,
“ Kak, kenapa sih loe jahat banget sama dia, kalau dia kenapa-kenapa kita tinggalin di kota. Siapa yang mau tanggung jawab..”
“ loe itu lugu atau tolol sih, orang kayak gitu. Banyak cara buat bikin siapapun ikutin mau dia..”
“ maksud kakak apa sih? Emang salah kalau dia ikut kita..”
“ dia itu pelacur, penari striptis di diskotik! Loe gak bisa liat dari pakaian sama muka dia.. mana ada cewek baik-baik pakai baju seksi dan dandan menor gitu!!”
“ kakak keterlaluan…!!”
Hendra pergi meninggalkan aku saat itu juga, ia duduk bersama Angel. Aku merasa kesal dengan apa yang terjadi. Aku takut, Hendra jatuh hati pada keluguan dan  pengaruh Angel. sebelum kami naik ke dalam mobil ia berkata padaku.
“ loe ingin gua bahagia kan? Ini kan tujuan perjalanan kita.! Kalau gitu jangan larang Angel..”
“ terserah apa mau loe.. tapi tanggung sendiri akibatnya dan gua harap loe gak suka sama dia!!”
Hendra tidak menjawab. Sepanjang perjalanan kami terdiam dan Angel berpura-pura tertidur di bangku belakang mobil. Akhirnya malam tiba saat kami tiba di kota persinggahan. Hendra tidur bersamaku dan Angel dengan terpaksa kami sewakan kamar lain. Saat kami tertidur tiba-tiba Angel mengetuk pintu kami. Kami membuka pintu dan ia langsung masuk dengan wajah ketakutan. Terjadi keributan, beberapa orang dengan badan kekar muncul di hotel. Angel panik, aku  dan Hendra bingung dengan kejadian itu.
“ kita harus pergi.. pergi sekarang juga.. soalnya ada orang yang mau cari gue..”
“ itukan urusan loe..  kenapa kita harus ikut2an masalah loe..”
Angel ketakutan, Hendra mendekatinya mencoba menenangkannya. Pintu kami diketuk dengan kencang. Pria-pria kekar yang mencari Angel memaksa masuk.
“ itu mereka tolong gua, dia mau nangkap gua untuk kerja di  diskotik lagi..”
“ kak, kalau loe gak punya hati buat bantuin Angel, biar gua aja yang bantuin dia..”
Pintu terbuka pria-pria itu berhasil masuk dan langsung ingin menangkap Angel. Hendra melindungi dan berkelahi tanpa imbang. Melihat kejadian itu aku mengambil bangku dan melempar ketiga orang itu. Berkelahi dengan apa saja. sampai akhirnya Angel memukul satu diantara yang lain dengan botol kaca hiasan. Yang lain mencoba menolong dan aku mengambil botol lain untuk melempar kedua orang itu sambil mencoba kabur menuju mobil.  Kami berhasil menjalankan mobil meninggalkan mereka.
Angel bercerita dalam perjalanan bahwa ia hanyalah korban dari penipuan yang terjerumus dalam dunia malam sebagai penari striptis. Sejak awal Angel sadar bahwa pria-pria itu akan mencarinya sehingga ia memilih tidak tiba di rumahnya dan mencari alasan untuk ikut dengan kami. Sekarang kami menjadi terlibat dalam masalahnya. Hendra akhirnya tau siapa Angel, tadinya aku pikir ia akan berubah pikiran terhadap Angel dengan perkerjaan yang ia lakukan tapi aku harus mengakui bahwa hati adikku terlalu tulus.
“ apapun perkerjaan yang loe lakukan, setidaknya di hati kecil loe gak pernah mau seperti itu, loe hanya korban.. kita gak seharusnya menghakimi loe bersalah dan buruk.. Cuma Tuhan yang pantes menilai..”
Hendra mungkin benar, akhirnya hati kecil pun merasa iba. Menyadari bahwa kesalahan terbesarku adalah merendahkan perkerjaan Angel dan menganggapnya Hina. Tapi Hendra, ia mengajarkanku untuk lebih menghargai orang lain dengan tulus. Satu hal yang terjadi dari masalah ini adalah, Obat-obat Hendra, hendphone dan uangku tertinggal di Hotel. Ia mulai tampak lemah dan lelah. Tertidur di belakang mobil bersama Angel disampingnya. Wajah kami berantakan dengan luka memar dimana-mana. Malam pun kami lalui sepanjang perjalanan hingga menunggu tiba waktunya kami bisa melewati hari menyeramkan hari ini.
***
Kami tiba di kota selanjutnya. Hendra terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Kami pun berhenti untuk beristirahat berharap pengejar kami tidak mengikuti. Hendra beristirahat di hotel. Aku dan Angel bicara. Kami tidak memiliki uang sama sekali, Angel menawarkan uangnya untuk membayar. Aku menjelaskan kepadanya sebenarnya keadaan Hendra yang membuat Angel terkejut. Ia tidak menyangka Hendra memiliki penyakit separah itu.
“ gua gak tau kapan dia pergi dari hidup gua.. gua cuma mau dia bahagia disaat-saat terakhir hidup dia..”
“ gak seharusnya gua bikin kalian terlibat dalam masalah gua..”
“ kita uda terlajur terlibat. Gua mau cari apotik buat beli obat dulu kalau bolehm gua mau pinjem duit loe dulu.. jagaian dia untuk sementara waktu ya..”
Angel melepaskan kalung emas dan perhiasan yang ia kenakan.
“ pakai ini dan jual aja supaya bisa beli obat..”
Aku berterima kasih pada kebaikan Angel, ia juga bersedia menjaga Hendra saat aku mencari obat di apotik disekitar kota ini. Angel menatap wajah Hendra mengobati perlahan luka memarnya dengan obat merah. Hendra terbangun. Angel menjelaskan kepada Hendra bahwa aku sedang pergi mencari obat.
“ kakak loe sayang banget sama loe.. loe beruntung ya, punya orang yang peduli, gak kayak gua..”
“ kenapa bilang begitu.. bukannya semua orang terlahir dengan kasih sayang..”
“ gua berbeda.. gua emang punya keluarga, tapi keluarga gua malah ikut-ikutan jual gua demi menyambung hidup.. gua disuruh kerja dan gak nyangka kerja gak bener..”
Angel menangis. Hendra memeluknya. Mereka saling bercerita tentang kisah hidup masing-masing termasuk apa yang Hendra lakukan saat ini dan tujuannya untuk bertemu ayah. Aku kembali membawa obat-obat yang bisa membantu meringankan sakit Hendra, mungkin hanya sementara. Hendra ingin melanjutkan perjalanan dengan kodisi yang lemah. Aku tidak bisa menolak apa yang ia inginkan. Kami pun melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak. Keuangan kami mulai menipis, Angel juga sudah tidak punya uang lagi untuk membantu kami.
Setelah aku melihat apa yang terjadi, aku menyadari Angel tidak seburuk yang aku bayangkan. Ia membantuku merawat Hendra yang mulai semakin lemah karena obat yang aku beli tidak membantu sama sekali. Karena malam itu kami lapar. Tanpa sengaja kami berhenti di supermarket yang buka 24 jam. Angel dengan cerdik menawarkan kepada kami apa yang hendak kami makan. Aku bingung, karena kami sudah tidak punya uang lagi untuk membayar makan.
“ perhatiin gua ya dari dalam mobil..” kata Angel.
Ia turun sambil merapikan pakaiannya agar terlihar seksi. Masuk ke dalam supermarket. Dua orang penjaga menyambutnya. Mereka berdua seperti terpanah oleh keseksian Angel. Angel meminta satu orang untuk membawanya mencari pembalut. Satu orang mengantarkannya, saat menemukan pembalut, Angel sengaja menjatuhkan beberapa produk makanan yang dibangun untuk menarik perhatian pengunjung, karena jatuh berantakan dua penjaga itu jadi sibuk merapikan barang-barang itu, angel mengambil kesempatan lengah itu untuk mengambil beberapa makanan dengan cepat dan kembali ke mobil.
Aku dan Hendra hanya termenung saat  melihat Angel kembali dengan makanan di tangannya.
“ kok bengong,. Buruan jalan keburu mereka datang..”
“ gila loe mencuri..?”
“ kagak Cuma ngutang..”
Kami semua tertawa dan dapat makan malam gratis dari apa yang Angel lakukan dengan penuh trik dan keberanian. Malam itu pun kami tiba di Surabaya dan saat itu berada di rumah yang kami pikir ada ayah. Ternyata rumah itu kosong. Tidak ada seorang pun, aku takut Hendra kecewa setelah menempuh perjalanan panjang ini tanpa melihat ayah.
“ bapak ga ada ya?” tanya Hendra padaku saat di mobil karena ia tidak turun.
“ bapak uda pindah.. maaf ya..”
Hendra terdiam, Angel disampingnya ikut prihatin.
“ gapapa kak, sebenarnya gua uda tau, gua gak akan pernah ketemu bapak.. “
“ maksudnya..?”
“ mungkin gua mau ketemu bapak tapi gua sadar kebahagiaan bukan kerena harus ketemu bapak, melewati perjalanan sama kakak dan Angel, itu uda bikin gua tau arti bahagia, kebersamaan dan sesuatu yang mustahil gua lakui dipikiran gua dulu sekarang bisa gua lakukan..”
“ tapi kakak janji kita pasti akan ketemu bapak.. kakak cari tau lagi ya.. “
Hendra hanya tersenyum, kami tidak tau hendak kemana setelah itu. Hendra ingin berhenti di toilet sambil kami mencoba mengisi bensin. Ia mengambil uang reseh tersisa di mobil dan memintanya padaku untuk menelepon ibu memberikan kabar, sebab hendphoneku tertinggal saat peristiwa di hotel. Memang itu yang aku harapkan agar ibu tiriku tidak khawatir karena kami baik-baik saja. setelah menelepon, Hendra pun pergi ke toilet. Aku dan Angel menunggu, tapi ia tidak muncul-muncul dan saat kami mengecek ke toilet. Aku mendobrak pintu dan menemukan Hendra kembali pingsan. Kami panik dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Hendra langsung dirawat dalam ruangan UGD. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi dan biayanya sangat mahal. Kami bingung, aku pun berpikir menggadaikan mobil untuk meminjam uang di sekitar kota ini. aku menyuruh Angel menjaga Hendra dan berkeliling kota mendapatkan sedikit uang dari penggadaian mobil. Walau mobil ini sewaaan tapi aku berhasil mendapatkan orang yang bersedia memberikan uang. Saat kembali, pihak rumah sakit menerima uang itu dan menjalankan operasi tapi tetap kekurangan uang. Aku bingung, Angel mendekat padaku.
“ kurang berapa Chan?”
“ 2 juta lagi.. kalau ga ada uangnya malam ini, abis operasi Hendra disuruh pulang.. “
“ kalau begitu gua coba cari pinjaman disini.. tunggu ya?”
“ emang loe bisa dapat mala mini juga..”
“ doain aja..”
Angel meminta izin untuk pergi sesaat dan berjanji untuk kembali, aku tidak bisa berpikir apa-apa selain bagaimana menyelamatkan Hendra. Angel tidak memiliki pilihan apapun karena ia tidak punya siapa-siapa di kota ini, ia hanya punya dirinya untuk membantu biaya pengobatan Hendra. Operasi berjalan tidak begitu baik, dokter tidak berbuat apa-apa dengan kondisi Hendra yang sudah terlalu parah. Beberapa jam kemudian, Angel kembali saat aku sedang menjaga Hendra yang tak sadarkan diri.
“ gue ada uang, bisa dipakai buat bantu Hendra tadi biaya rumah sakit uda gua lunasin..”
“ darimana loe dapat uang ini..” kataku.
“ loe gak perlu tau.. tapi setelah ini, gua mau pamit.. gua ada urusan. Titip salam gua buat Hendra kalau dia bangun..”
“ mau kemana? Kan loe bilang loe gak mau kembali ke keluarga..”
“ kemana pun gua pergi, gua sama kayak Hendra, uda ngerasain bahagia… dan loe gak perlu tau gua kemana..  Yang pasti kalian ini orang-orang berharga dalam hidup gua walau perjalanan kita singkat.“
Hendra terbangun. Ia sudah tak kuat lagi bicara. Nafasnya terhenga-henga. Aku mendekatinya.
“ Kak.. gua mau minta tolong..”
“ tolong apa Dra.. ngomong aja..”
“ jagaian ibu ya kalau gua kenapa-kenapa.. titip maaf gua.. “ katanya dan aku menangis saat itu, merasa bahwa itulah pesan terakhirnya untukku.
Angel mendekat merangkul tangan Hendra. Hendra mencoba tersenyum padanya. Walau itu berat.
“ Dra.. loe harus kuat.. jangan menyerah.. loe pasti bisa sembuh..”
“ Angel.. “ Hendra lalu menarik tanganku dan memberikan kepada tangan Angel.
“ kalian cocok.. harus selalu bersama. Janji??” kata Hendra dan aku melirik Angel.
Aku tidak tau apa yang terjadi karena Hendra tiba-tiba menjodohkan aku dengan Angel. aku terdiam dan Hendra sekali lagi memintaku untuk berjanji.
“ ia kakak janji.. akan selalu bersama sama Angel..”
Aku pun mengatakan janjiku untuk selalu bersama Angel. Angel pun menangis dan mengatakan hal yang sama. Hendra tersenyum lalu memejamkan mata setelah itu untuk selamanya. Ia meninggal dengan kebahagiaan. saat aku mengurus surat-surat kematian Hendra. Polisi datang, menangkap Angel dengan tuduhan melakukan pencurian di supermarket karena wajahnya tertangkap di cctv. Ternyata ia mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit Hendra dengan melakukan pencurian di supermarket setelah ia melakukan hal yang sama saat bersama kami. Tapi aku tidak bisa marah karena itu, ia melakukan itu untuk membantu Hendra.
Aku sudah berjanji untuk bersama Angel. Aku akan menunggu sampai ia keluar dari kasus hukum yang menimpanya. Hendra dimakamkan, dengan izin kepolisian Angel ikut hadir dalam pemakaman. Setelah melewati semuanya aku berpikir untuk menikah dengan Angel. Kepergian Hendra membuatku mengerti arti kebahagiaan, walau aku harus bersedih kehilangannya. Mencintai tidak harus melihat bagaimana dan dari mana orang yang kita cintai berasal, selama ia telah menjadi orang yang baik dan mencintai kita, seharusnya kita melakukan hal yang sama.
Ayahku tidak pernah lagi muncul bahkan saat pemakaman Hendra, aku sudah tidak terlalu peduli. Aku mendengar ia sudah berkeluarga lagi dan baru muncul dengan keluarga barunya saat ia hanya bisa menyesal mengetahui adikku meninggal.  Ayah memang sudah bangkrut dan hidup apa adanya dengan sederhana, tidak seperti dulu yang mampu memberikan nafkah padaku. Aku telah menjadi dewasa dan Tugasku adalah menjaga ibu tiri yang sudah kuanggap ibuku sendiri dan melanjutkan hidup menjadi orang baik dan lebih baik dari apapun melalui sejarah perjalanan yang aku lalui.
Tidak ada kehidupan sempurna tanpa kehilangan seperti tidak ada kehilangan yang dapat membuat kehidupan sempurna.
Tamat




sumber : http://agnesdavonar.gerychocolatos.com/?p=3114
READ MORE - MY STEP BROTHER

page 128

"karena cinta tidak selalu berwarna putih, ada yang hitam dalam kehidupan yang membuat semua menjadi indah pada waktunya" - Agnes Davonar


128. tiga angka yang menurutku tidaklah luar biasa. Tapi bagi seseorang yang aku temui, yang setiap harinya meminjam buku di toko buku milikku, itu seperti hal yang aneh.  Aku ga pernah tau? Mengapa dia menyukai angka itu. Dari angka nomor apartementnya sampai angka motornya pun bernomor nyaris 128. Ketika aku Tanya? dia selalu diam dan tidak pernah mau menjawab.
Jadi, namaku angel. anak yang diwariskan memiliki toko sewa buku komik dan novel sederhana miliki ayahku. Letaknya tidak jauh dari kampus yang lumayan terkenal. Ya merekalah, orang-orang yang ditargetkan menjadi pelanggan setia toko buku ini. aku baru saja 2 bulan membantu ayahku ketika lulus dari sekolah. Karena aku tidak suka belajar jadi aku ingin berkerja membantu ayah disini. Ayah tiba-tiba harus pindah ke kampung karena menjaga nenek kami yang mulai sakit diabetes. Ia sangat mencintai ibunya, tapi toko harus berjalan karena itulah salah satu cara kami membantu biaya nenek.
2 bulan disini , setiap pelangganku selalu sama. Tapi yang paling sering kujumpai hanya seorang pria yang menurutku tidak memiliki model muka pembaca buku.  Wajahnya putih, bertindik anting di telinga dan mulutnya. Pakaiannya gak rapi terkesan punk. Rambutnya sedikit berwarna kuning ala boy band korea.  Setiap datang, ia selalu memilih untuk membayar uang baca di toko buku kami. Ya toko buku kami juga menyediakan kafe isinya minuman ringan sambil membaca buku. Cukup membayar minuman dan sedikit uang receh ia boleh membaca buku gratis selama 2 jam. Dibatasi! Karena kalau terlalu lama akan merugikan pelanggan lain yang hendak membaca.
Seperti biasa orang itu datang pada toko buku kami. Selalu tepat. Pukul 12. Lewat 8 menit. Unikkan, sambil menyerahkan kartu membernya kepadaku dengan nomor pesanan dia 128.
Chandra –umur 21.  Lalu iya memberikan uang berserta minuman yang ia pilih. Kopi susu.  Biasanya jam siang seperti ini toko buku akan sepi karena mahasiswa dan pelanggan hanya akan datang pada sore hari. Ia hanya seorang diri dengan beberapa pelanggan lain yang memang khusus menghabiskan waktu untuk istrirahat kerja.  Lantai toko buku milikku ada dua, lantai satu khusus komik dan lantai dua khusus novel. Ia selalu memilih lantai 2 dan mengambil tempat duduk di ruangan itu sambil minum kopi. Aku menyerahkan kopi pesanannya ke meja sambil melihatnya membaca novel.
Lucunya hanya halaman 128 yang ia baca.  Karena iseng aku pun bertanya.
“ Kak, kalau aku perhatikan. Kok setiap kesini bacanya Cuma satu halaman novel yang angkanya 128 sih. Ada yang special ya dengan angka itu?”
“ gak special sih, Cuma emang aku memang khusus membaca halaman ini saja?”
“ kayaknya uda dua minggu ini selalu disini ya.. uda berapa banyak novel yang kakak baca disini?”
“ oh ya, jangan panggil aku kakak, panggil aja Chandra..”
“ oo., maaf Chandra..”
“ kamu Angel kan.. “ tebaknya dan aku tersenyum.
“ Angel boleh aku Tanya?” katanya dan aku mengatakan “ silakan..”
“ berapa sih jumlah novel kamu disini..?”
“ semuanya..? “ tanyaku balik.. “ iya semuanya..”
“ wah seinget aku bisa sampai ribuan. .angka pastinya mungkin 3000an.. kenapa ya Chan?”
“ waduh banyak juga ya.. kalau gitu aku harus baca semuanya..”
Aku tersenyum geli, merasa aneh dengan penegasannya.
“ ngapain baca semua novel disini, sampai setahun juga gak akan habis tau..”
“ ya itulah,. aku harus baca semuanya.. bingung dijelasin.. mungkin nanti kapan-kapan aku jelaskan.. “
Seseorang muncul dalam toko buku, sepertinya pelanggan dan aku harus melayani.
“ baiklah.. kalau begitu aku kerja dulu , selamat menikmati minumannya..”
“ thks..”
2 jam, itu waktu yang ia lakukan untuk membaca novel yang ia mulai dari rak paling atas dari setiap sudut lemari buku. Mungkin ia hanya mampu membaca 100 buku saja untuk setiap harinya. Sebagai pelanggan yang baik, ia selalu merapikan setiap hal yang ia baca. Ketika usai, ia mengambil kartu membernya dan mengatakan sesuatu padaku.
“ angel, aku pergi dulu ya.. oh ya, sekali lagi boleh aku minta tolong.?”
“ boleh..”
“ tolong ingatkan aku ya. Kalau aku sudah baca seluruh rak bagian atas lemari 1. Jadi kalau aku datang, dikasih tau.. maaf merepotkan.”
“ oh ya pasti..” kataku dan jumlah lemari novel kami ada sekitar 10 lemari.
Dia pun pergi dengan melempar senyum, berlalu dengan motornya. Menyimpan sejuta misteri padaku. Hal yang membuatku merasa aneh. Aku tau, ia akan datang pada saat waktu yang tepat.  Mungkin besok atau lusa. Dan harus tepat pukul 12 lewat 8 menit bila lewat, ia akan memilih untuk tidak membaca dan pergi berlalu dan itu sudah kuperhatikan sejak 2 minggu lalu ia disini. Ia sudah telat 5 kali dan membatalkan kunjungan hanya karena perbedaan waktu.

Keesokan harinya..
Ia muncul ditengah hujan. Mendung dan petir yang meledek. Karena basah kuyup. Aku pun meminjamkan handuk untuk membersihkan basah ditubuhnya. Ia melempar senyum dan mengucapkan terima kasih.
“ hari ini aku telat ya.. ?”
“ iya uda lewat 15 menit..”
“ ya sayang banget..”  keluhnya. Dan aku menjadi penasaran.
“ chan.. kenapa sih harus 12. Lewat 8 menit. Kan bukan masalah juga toh?”
“ buat aku masalah ngel.. masalah janji.. baiklah supaya kamu tidak bosan dan mungkin bisa bantu aku.. aku cerita saja ya..’
“ dengan senang hati.. tunggu aku ambil  kopi hangat.. gratis buat kamu..”
Setelah mengajaknya duduk di sofa dekat meja kerjaku. Lalu meletakkan segelas kopi hangat. Lalu aku membiarkan ia bercerita . misteri angka 128 yang membuatku begitu penasaran..
Alkisah.. katanya..
Sejak dahulu, Chandra menyimpan satu perasaan kepada seseroang yang sudah ia kenal sejak kuliah. Orang yang menurutnya adalah bidadari. Bidadari yang selalu membuatnya berharap kelak menjadi bagian hidupnya.  Bidadari yang juga terkadang melukai perasaannya.
Namanya Agnes. Umurnya sama. Hanya ia selalu menganggap Chandra sebagai sahabat. Sahabat dimana Chandra melihat sendiri bagaimana Agnes memiliki kekasih yang selalu silih berganti dari waktu ke waktu. Tapi yang ia bisa lakukan hanya satu.
Cinta diam-diam.
Ia menjadi pendengar yang baik. Menjadi teman yang baik dan selalu menjadi terbaik untuk membahagiakan agnes. Walau harus menderita karena perasaan yang ia simpan.
“ gue suka deh sama temen loe, Chan..”
“ siapa?”
“ itu yang kemarin ketemu sama kita di mal. Yang loe kenalin namanya Hendra.”
“ oo. Dia. “
“ dia masih single kan?”
“ iya.. sepertinya..” “ tolong dong kenalin..”
“ hm…”
Agnes lalu merangkul pundak Chandra sambil berkata..
“ plz.. janji deh gak mainin dia.”
“ bukan masalah mainini sih.. tapi yang kemarin loe minta kenalin belum seminggu uda diputusinkan?”
“ oo.. itu mah Cuma bercanda kali.. dianya yang anggap serius.. loe gak percaya kalau gua orang baik-baik ya..?”
“ percaya kok.. yauda nanti gua coba Tanya ya.”
“ makasih Chan…”
Selang beberapa minggu Agnes sudah jadian dengan Hendra. Dan mungkin inilah yang sudah kesekian kali Chandra melihat kelakuan orang yang ia sayangin. Tapi ia hanya bisa satu. Diam dan menunggu Agnes kembali kepadanya. Melapor dan bagaimana mengisahkan kisah cinta dia dengan pria-pria lain. Bahkan terkadang dengan air mata yang ia bawa.. kalau sudah begitu. Chandra hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Mengingatkan walau selalu berulang-ulang ia melakukan hal yang sama.
Kali ini menjadi sangat buruk. Agnes benar-bener tak menyangka kalau Hendra mungkin memberikan pengalaman terburuk baginya. Rasa sakit hati dimana ketika ia menyimpan cinta dan malah dipermainkan. Seperti karma. Ia menangis disamping Chandra.
“ sudah gua bilang kan? Gua gak ikut campur kalau sudah begini?”
“ loe sih yang kenalin gua ke dia. Kalau tau dia begitu kan gua gak akan sakit kayak gini..”
“ ya. Ya.. gua selalu salah.. salah dan hanya bisa merasa salah..”
“ kok loe ngomong gitu. Emang loe salah. Kalau tau dia bejat? Kenapa kenalin..”
“ kan loe yang mau..”
Tanpa dosa. Tanpa bersalah dan tanpa menyesal. Selalu Chandra yang disalahkan dalam setiap masalah yang Agnes hadapi.  Selang beberapa minggu,  agnes telah kembali dengan wajah bahagia. Disamping seorang pria yang menurut Chandra lebih buruk dari Hendra.
“ ngapain loe jadian sama dia, dia itu kan penjahat kelamin?”
“ ah. Sok tau,. Loe iri ya lihat gua bahagia sama dia..”
“ kagak, gua Cuma mau ingetin loe.. jangan sampai nanti loe jadi korban..”
Agnes menjadi emosi.
“ gua uda gede. Dan uda berpangalaman pacaran. Gak perlu loe ajarin.. ada juga loe yang perlu belajar dari gua bagaimaan punya pacar? Toh selama ini loe jomblo terus.. atau jangan-jangan loe ini ?”
“ apaaan sih.. gua normal.. gua peduli sama loe..”
“ peduli sebagai teman kan ? gak lebih..?”
Chandra terdiam.
“ kalau pun lebih? Salah?”
“ salah lah..  loe kan buka tipe gua dari ujung kaki sampai rambut.. kita temanan aja lah..” kata agnes santai tanpa sadar menyakiti Chandra.
“ yauda gua pergi.. gua mau kerja..”
“ anterin gua dulu dong.. mau ketemu dia neh..”
“ mau kemana..”
“ dugem coi.. dia uda disana..anterin aja setelah itu loe pergi..”
Dengan terpaksa. Chandra pun pergi mengantarkan agnes ke tempat dugem. Dimana sebenarnya ia merasa tidak rela melihat Agnes ada ditempat seperti ini. sebelum pergi, agnes memperhatikan Chandra.
“ Chan.. kayaknya loe akan terlihat lebih menarik di mata gua, kalau loe pakai anting, bibir loe diantingin dan rambut loe diwarnai kayak ala boyband korea deh..”
“ alah, mau diapain juga tetap jadi teman loe kan?”
“ upss. Siapa tau naik pangkat jadi someone guee..”
Chandra merasa seperti terpanah oleh kata-kata terakhir Agnes.
“ loe beneran?”
“ gak ada yang tau apa yang terjadi di dunia ini selain kita yang menentukan dan kita yang jalanin kan?”
Chandra tersenyum dan membiarkan agnes pergi dengan senyum dan berlalu di tempat dugem. Ia pulang dan mulai berpikir melakukan apa yang agnes katakan., mungkin inilah satu-satunya kunci baginya untuk setidaknya mendapatkan kesempatan walau sedikit mustahil. Menjadi kekasih Agnes.
***
Kini Chandra sudah seperti yang Agnes katakan. Ia pergi menemui Agnes yang malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya yang sudah seperti alah boyband.
“ loe salah makan obat ya? Kok jadi berubah bentuk gini potongannya..”
“ bukannya loe suka yang kayak gini?”
“ hah, kapan gua bilang..?”
Chandra terdiam,
“ yauda lupain aja.. jadi loe suruh gua datang kesini mau ngapain?”
“ gua mau minta dianterin ke tempat cowok gua lah.. yuk..”
Dengan wajah sedikit kesal, Chandra pun pergi mengantar.  Setelah mengantar ia pulang dengan wajah kesal karena telah merombak dirinya sedemikian rupa tetap tidak dihargai sama sekali oleh Agnes. Tiga hari ia menolak untuk menjawab dan menghilang dari Agnes,. Walau sesungguhnya ia pergi ke bandung berlibur dan sengaja tidak membawa nomor kontaknya. Sepulang dari bandung, ia diberitahu oleh ibunya.
“ agnes overdosis dirawat di rumah sakit..”
Dengan panik ia menuju rumah sakit. Mendekat kepada gadis yang ia cintai begitu lama terbujur lemas. Agnes bangun dan menatapnya dengan lemas.
“ loe kemana aja? Kok ilang berhari-hari..” kata agnes.
“ sorry nes., gua ke bandung, gak bawa hendphone gua..  gimana loe? Kok bisa jadi kayak gini..”
“ gua gak tau chan. Tiba-tiba abis dugem gua uda disini.. katanya overdosis.. “
“ yailah,. Kenapa bisa sampai gini sih. Terus cowok loe mana?”
“ gak tau.. dia gak pernah nengok gua.. rasanya uda selesai..” kata agnes menangis.
“ yauda gak usah dipikirin.. yang penting. Loe sembuh dulu..” kata Chandra
“ maafin gua ya.. gua seharusnya dengerin kata-kata loe..sekarang jadi kayak gini.. malu gua.. berulang-ulang bikin loe jadi sibuk sendiri karena gua.”
Chandra merangkul tangan Agnes sambil berkata
“ gak usah peduli apa kata isi hati loe. Yang rasain bahagia kan gua dan loe aja. Selama gua bahagia ada disamping loe. Mau disakitin kayak apapun gua terima kok..”
“ ih.. kok loe jadi gombal sih..”
“ hehehe. Abis kalau serius. Loe tambah nangis. .santai aja. Cepet sembuh ya..”
Agnes mulai memperhatikan semua yang ada tentang Chandra.
“ loe lebih cakep kalau kayak gini.”
“ alah boyband ya.. hahaha, malu sih. Tapi sekarang cuek aja. Emang gua lebih cakep kayak gini, banyak cewek-cewek yang liatin gua..”
Hati agnes tiba-tiba tak suka mendengar tentanng kalimat itu..  tapi ia tidak pernah menyadari apa yang terjadi di hatinya sampai hari berlalu dan berlalu ia bersama Chandra sampai ia keluar dari rumah sakit.
Suatu ketika, di siang tak terduga. Agnes mengajak Chandra ke toko buku milik Angel.
“ Chandra.. loe gak suka baca buku ya novel gitu?”
“sumpah demi apapun kagak doyan” kata Chandra sambil memperhatikan jam tangannya.
“ pantesan loe gak menarik buat cewek.. ..”
“ aneh loe.. bukannya cewek sukanya cowok balap.. ngapain sih kita disini?” kata Chandra sambil memperhatikan seluruh isi ruangan toko buku.
“ gua mau cari buku. Buat disewa.. loe tunggu disini aja. Kalau uda selesai gua balik lagi..”
Chandra duduk sambil memainkan teleponnya dan agnes mencari buku. Beberapa saat kemudian ia kembali. Ia membawa beberapa buku. Dan mereka pergi. Tiba-tiba Chandra ingin mengatakan isi hatinya saat di mobil dalam keadaan macet di jalan.
“ nes.. boleh gua Tanya gak?”
“ Tanya aja. Ngapain pake izin segala?”
“ sebenarnya. Haram gak sih buat loe kalau cowok seperti gua jadi pacar loe..”
Agnes terdiam dan melirik mata Chandra.
“ ini loe lagi bercanda apa serius sih..?”
Chandra terdiam dan hendak mengatakan sesuatu tetapi mobil belakang mulai marah-marah dengan suara klaksonnya yang berisik. Ia melewatkan pertanyaan itu dan sampai tibalah di depan pintu rumah agnes.
“ nes..gua cinta sama loe..?”
Agnes melihat wajah Chandra dengan wajah serius..  “ kok.. bisa?” tanyanya heran.
“ ya itulah isi hati gua.. Cuma itulah yang membuat gua seperti saat ini, saat ingin terus sama loe..walau gua harus melihat sendiri bagaimana waktu ke waktu keadaan loe..”
“ gua ini uda banyak dosa loh.. dan semua dosa gua loe catet kan? Ngobat. Sampai-sampai gua pengen mati.. loe kok masih bisa cinta sama kayak orang dosa gini?”
“ karena gua percaya.. suatu saat loe pasti berubah..”
Agnes turun dari mobil sambil berkata.
“ berubah. Buat apa?”
“ buat gua.. “
Dengan wajah emosi.
“ gak usah ngomongin cinta diantara kita. Ngomongin aja bagaimana kita terus berteman. Cinta itu gak ada dalam hidup gua.. liat gak bokap gua..  pergi gitu aja setelah nyokap gua hamil? Cinta itu bullshit.. Cuma ada didongeng.. kalau loe mau cinta sama gua.. loe sama saja mau jadi korban..”
“ korban apaan. Gua jujur salah ya..”
“ salah.. jadi selama ini loe mau baik sama gua Cuma mengharapkan cinta?”
Chandra terdiam..
“ mungkin.. atau tidak.. gua gak pernah tau.. tapi gua tulus cinta dan menerima apapun yang terjadi dengan loe..”
“ sorry. Gak sempat gua bahas cinta. Gua pamit dulu..”
Agnes pergi begitu saja tanpa rasa dan jawaban. Kini giliran Chandra yang merasa bersalah. Menjadi bodoh karena mengapa tiba-tiba mengungkapkan isi hati. Sudah kehilangan cinta. Kehilangan sahabat. Berhari-hari kemudian. Chandra muncul didepan rumah agnes. Agnes selalu menghindar. Tanpa alasan dan tanpa kata-kata apapun. Sampai akhirnya ia menyerah dan pergi untuk terakhir kalinya bertemu agnes. Agnes melihat Chandra di depan rumah dan merasa simpatik.
“ Chandra.. gua mau kasih tau loe sesuatu. Kalau loe benar-bener pengen tau?apakah gua bisa cinta sama loe.. loe masih ingat kan toko buku yang biasa gua sewa buku. “
“ iya kenapa?”
“ cari di semua bagian novel halaman 128. Disitulah loe tau. Apakah cinta kita bisa atau mustahil..”
“ kenapa gak langsung aja? Kenapa mesti cari di novel?”
“ jangan pernah muncul dihadapan gua sampai loe dapatin novel itu dan jangan pernah telat. Loe hanya boleh cari novel itu di jam 12. Lewat 8. Inget…setelah ini jangan pernah kembali sampai loe nemuin, karena gua akan pernah mau ketemu loe..”
Agnes pergi berjalan perlahan meninggalkan Chandra
“ gua akan cari.. dan cari sampai dapat.. itu janji gua..”
Agnes pun menutup pintu dengan tangis. Memegang bagian perutnya. Menatap kepergian Chandra.
***
Kini aku mengerti mengapa ia memiliki alasan untuk mencari novel di setiap halaman 128. Dan aku merasa simpatik lalu menawarkan bantuan,
“ ngapain mesti cari setiap novel? Tinggal kasih tau aja siapa nama membernya terus aku cari datanya kan gampang..”
“ iya juga ya.. kenapa ga kepikiran,.”
Aku pun mengajaknya ke meja computer. Dan mencari data agnes yang ternyata memiliki member nama yang sama cukup banyak. Karena sistem computer ini hanya mengunakan angka. Maka tidak akan bisa melihat nama lengkap. Tertela agnes dengan jumlah ratusan. Sama saja membuat pusing kepala.
“ ya sulit kalau gini? Ga coba nanya ke agnes berapa nomor member dia?”
“ uda dua minggu ini aku ga bisa nemuin dia. Kan uda janji gak akan nemuin dia sampai berhasil bawa bukunya..”
“ ya..” kataku lemas
“ ya sudah gapapa. Aku balik dulu aja. Besok kan masih bisa cari lagi. Soalnya ada urusan..”
Aku menatap pria itu pergi. Malam sebelum aku menutup toko. Entah mengapa aku jadi terpikir angka 128 yang selalu dikatakan Chandra. Mencoba mencari angka member tersebut. Ternyata bukan milik Agnes. Tapi ketika aku mengubahnya menjadi 821. Secara ajaib muncul nama agnes, dan aku pun menemukan buku yang ia sewa di computer. Aku mencari buku berjudul“ my last love “ di list novel yang ia sewa dan mencarinya di rak novel. Setelah menemukan buku itu, aku langsung membuka halaman 128.
Tertulis dengan bulatan pensil sebuah kalimat
“ bila aku menerima cintamu- apakah kamu masih bersedia menjadi ayah dalam kandunganku? Aku selalu mencintamu sejak saat kita berkenalan, tapi aku tidak pernah mengerti mengapa kau membiarkan aku mendapatkan cinta lain sebelum engkau mengatakan cinta itu sampai kini aku telah tersesat”
Aku pun paham. Bahwa Agnes hamil. Lalu mencari nomor telepon Chandra. Meneleponya dan memintanya untuk segera ke toko buku. Ia terkejut ketika aku menemukan novel itu. Beberapa saat kemudian ia datang dan aku menyerahkan buku itu dan ia membaca kalimat  yang sama denganku.
“ jadi, mungkin itu alasannya.. “
Terima kasih ya Angel. aku pergi dulu.
“ tunggu Chan..” kataku
“ cinta itu tidak selalu berwarna putih. Selalu ada hitam. Tapi keduanya adalah dua hal yang membuat dunia ini terasa indah.. terima lah bila kamu memang cinta..”
“ pasti..”
Aku hanya bisa mengelah nafas. Melihat kisah cinta ini. seperti dalam sebuah dongeng yang tak pernah terjadi. Bagaimana cinta meruntuhkan rasa hitam dalam setiap putih.
Dua minggu kemudian..
Agnes dan Chandra datang, menyerahkan kartu undangan pernikahan.
“ kalian menikah..”
“ karena dengan inilah kelak aku bisa bertanggung jawab sebagai manusia. Cinta dan kasih sayang. Menerima apapun hitam atau putih dalam kehidupan seperti yang kamu bilang.”
Kata Chandra..
tamat
READ MORE - page 128

APA ITU VALENTINE

Kata orang . . .
14 Februari adalah hari Valentine.
Aku tidak tau apa itu Valentine . . .

Bagiku,
Kasih sayang tidak hanya ukuran dalam sehari.
Tapi bagaimana menciptakan kasih sayang setiap hari.
Itu yang utama . . .

Bukan hanya untuk kita berdua,
Tapi juga untuk sesama.

Percayalah . . .
Dihari apapun itu,
Aku selalu mencintaimu
READ MORE - APA ITU VALENTINE

IBU- AKU MENCINTAIMU…

  ” Karena tidak ada kasih sayang yang sesungguhnya abadi dalam pikiran kita selain kasih sayang seorang ibu yang selalu kita ingat sampai kita berakhir nanti ” Agnes Davonar

Dalam hidup, kita memiliki banyak kasih sayang. Kasih sayang yang mungkin bagi sebagian orang hanya sesaat tapi bagi yang lain menjadi abadi selamanya. Seperti kisah ini, kisah kasih sayang seorang ibu yang aku harapkan pernah terjadi dalam pada hidup kalian tapi tidak kalian sia-siakan. Ingatlah, Kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah berhenti ia berikan dalam keadaan apapun. Semoga kisah ini menyadarkan kalian betapa penting arti ibu dalam hidup kalian.
Aku punya seorang ibu, dalam usia yang muda, ia melahirkanku karena pernikahannya yang muda. Ayah dan ibu hidup bahagia dan melahirkan aku yang manja dan serba hidup cukup. Sampai umurku 7 tahun, aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. Untungnya aku pintar sehingga selalu menjadi juara kelas. Kata guruku sih, aku ini jenius sehingga walaupun tanpa belajar pun nilai ujian di kelasku selalu mendapatkan nilai A.
Kebahagiaan yang aku rasakan dan kemewahan yang aku rasakan semua tiba-tiba menjadi sirna ketika ayah mengalami kecelakaan. Ia meninggal dan meninggalkan hutang yang begitu besar. Aku tidak pernah siap miskin tapi tidak dengan ibu. Kami kehilangan rumah dan harus tinggal dirumah susun murah yang hanya memiliki satu ruangan dengan satu kamar. Ibu tau, aku pintar dan tidak seharusnya berhenti sekolah, karena penikahan yang muda dan ditentang keluarga akhirnya ibu terusir dari keluarganya. Sedangkan orang tua ayah, sudah tak ada siapapun yang mau membantu kehidupan kami.
Setelah menjual segala perhiasan yang ia miliki. Ibu memiliki ide untuk berjualan bakmi ayam. Saat itu umurku 13 tahun. Ia masih harus menanggung hutang-hutang ayah yang harus ia bayar.
“ ibu akan berjualan bakmi untuk membantu kehidupan kita. Angel bantu-bantu.. ibu ya?”
Aku terdiam dan rasanya tidak menyukai ide ibu.
“ ibu akan jualan bakmi dimana? Memangnya ibu bisa buat bakmi?” tanyaku.
“ Loh dulu nenek ibu kan dagang bakmi, jadi ibu tau resepnya. lalu mungkin ibu berdagang di depan jalan besar depan komplek. Disitu banyak orang yang kerja di pasar. Kali-kali saja laris. Sehingga kamu bisa tetap sekolah.”
“ aku gak mau.. aku malu. Ibu saja yang jualan, aku gak mau bantu..”
“ iya nak, kamu gak usah bantu ibu, kamu cukup belajar yang giat dan ibu yang nantinya akan bekerja..besok ibu akan pergi ke sekolah kamu untuk mencoba meminta beasiswa..”
Aku senang ibu tidak mengharapkan aku berjualan bersamanya. Apa jadinya kata orang tentangku. Ibu memiliki gerobak bakmi yang ia beli bekas dan setiap pagi ia akan mendorong gerobak itu ke lapak tempatnya berjualan lalu sepagi mungkin sebelum matahari terbit ia sudah tidak ada di rumah ketika aku bangun. Ia tidak pernah memintaku untuk berjualan tapi terkadang aku membantunya untuk sekedar memotong bawang putih dan hanya tugas-tugas mudah di dalam rumah yang terpenting aku tidak sudi ikut berdagang dengan ibu.
Teman-temanku, mungkin tau. Kalau ayahku telah meninggal. Tapi mereka tidak pernah tau kalau keluargaku jatuh miskin. Ibu berhasil mendapatkan beasiswa untukku sehingga aku tidak perlu membayar uang sekolah sampai aku lulus smp nanti. Tapi kehidupan sekolah yang aku rasakan berbeda dengan saat ayah ada dulu. Kini aku jarang sekali makan dikantin. Aku membawa bakmi buatan ibu setiap hari yang membuatku bosan, ketika teman-teman mengajakku makan. Aku selalu berkata.
“ aku lagi gak mau makan di kantin, gak mood” atau “ aku sedang diet” padahal aku tidak mempunyai uang.
Tapi, kalau aku lagi beruntung, bila seorang teman yang sedang ulang tahun, maka tanpa ragu aku akan membuang bakmi buatan ibuku dengan makanan kantin traktiran. Karena aku juga pintar, aku tau bagaimana memanfaatkan teman-temanku yang bodoh. Sekedar untuk membuatkan atau mengerjakan PR Sekolah, itu bisa membuatku memiliki uang saku. Ibu tidak akan memberikan uang jajan lebih padaku. Ia hanya menjatahku 5000 sehari dan bisa dibayangkan bagaimana aku hidup dengan uang sekecil itu.
Agar teman-temanku tidak pernah tau ibuku berjualan bakmi. Aku selalu menghindar saat melihat ibu berdagang di jalanan pasar. Aku mencari jarak yang lebih jauh untuk berputar sampai ke belakang jalan rumah susunku yang jelek. Karena daerah kumuh, tentu saja teman-temanku tidak akan selevel untuk menuju kesana. Kalaupun ingin mengerjakan tugas rumah. Ya aku menuju rumah mereka, setelah puas tidur di ranjang empuk sahabatku. Aku pulang dan menderita bersama kasur keras rumahku.
Ibu walau bekerja dari pagi hingga sore hari. Ia tidak pernah berhenti untuk bertanya tentang pekerjaan sekolahku. Ia tetap memperhatikan diriku dan entah mengapa sejak menjadi miskin seperti ini hubungan kami menjadi dingin, aku tetap berpendapat kematian ayah dikarenakan oleh ibu atas kesalahan ini. kalau saja saat itu, ia tidak meminta ayah menjemputnya di salon. Ayah tidak akan mengalami kecelakaan. Jadi sejak miskin seperti ini..  Aku hanya selalu menjawab sepatah kata ketika ia bertanya.
Kemiskinan kami berjalan sampai akhirnya aku duduk bangku sekolah menengah umum dan lulus dengan nilai yang baik sehingga mendapatkan beasiswa di sekolah sma favorit. Untuk membeli baju sekolah baru saja ibu tidak mampu karena masih harus membayar hutang ayah. Ia malah menerima sumbangan dari tetangga kami yang kebetulan sudah lulus sma dan memberikan pakaian itu padaku.
“ aku gak mau pakai baju bekas. Mending aku gak usah sekolah.”
“ angel, kamu harus paham keadaan kita. Pakailah baju ini untuk sekolah, untuk sementara sampai ibu bisa memberikan yang baru.”
“ dari dulu juga ibu selalu bilang ingin beli ini itu?, tapi ujung-ujungnya bohong. Kenapa sih bu? kita jadi semiskin ini, kalau ayah masih ada! Ia ga mungkin kasih aku baju bekas kayak gini” teriak aku kasar dan meninggalkan rumah.
“ angel mau kemana?”
“ mau cari angin. Bosen sama keadaan rumah yang miskin kayak gini!
Jika aku marah, ibu tidak akan marah padaku. Entah berapa banyak keluhan dan kemarahan yang aku lakukan untuknya. Yang aku tau, aku hanya ingin hidup kami seperti dulu. Tidak sesulit dan semiskin ini. Tuhan rasanya tidak pernah adil dengan hidupku, ia seperti mempermainkan aku.
***
Sekolah baruku ini lebih nyaman dengan keadaanku karena semua anak-anak di sekolahku anak baru yang tidak tau latar belakangku, walaupun sekolah ini masih khusus bagi mereka anak-anak mampu. Sebagian dari anak-anak di kelas mungkin menyukaiku tapi yang lainnya terkadang memandangku dengan aneh. Terkadang aku mendengar bisikan yang cukup membuat telingaku panas.
“ itu si Angel, orang tuanya mampu gak sih? kok bajunya dekil ya.. emangnya sekolah ini terima anak kayak gitu ya “kata Agnes kepada teman-temannya.
“ denger-denger sih dapat sekolah gini karena beasiswa” ujar teman agnes sengaja saat aku lewat.
Aku ingin marah mendengar mereka bergosip tapi aku lebih berpikir cerdik untuk tidak meladenin omongan mereka daripada apa yang mereka bicarakan semakin meluas karena aku tanggapi. Sepulang sekolah, aku menangis. Tidak terima dengan kata-kata temanku. Ibu kebetulan sedang pulang mengambil bakmi yang habis.
“ angel hari ini dagangan ibu habis loh,, ibu senang banget” kata ibu padaku dan ia tiba-tiba melihatku menangis.
“ kenapa kamu nangis..”
“ emang ibu peduli? Ibu mana peduli sama hidup aku”
“ kenapa bilang begitu..”
“ aku malu bu, semua orang ledekin baju dekil ini..aku gak mau sekolah lagi besok?”
Ibu hanya menghela nafas. Kemudian pergi setelah mengambil bakmi di kulkas. Ia menutup pintu dengan air mata. Ia berdagang tanpa semangat. Menghitung setiap uang yang ia dapatkan dari semangkok bakmi yang terjual. Menyisakan sebagian untuk modal besok. Ia bangun pagi sekali untuk membeli sayur dan kebutuhan berjualan bakmi. Bahkan aku rasa ia hanya tidur 3 jam untuk sehari-harinya. Wajahnya yang cantik dulu kini menjadi tidak terawat. Ia menjadi saat buruk dengan tambahan kantung hitam dibawah matanya.
Suatu malam saat aku tertidur, ibu pulang dengan keadaan pincang. Ia seperti kelelahan membawa barang barang belajaan dipasar. Ia mengelus ngelus kakinya. Aku memperhatikannya.
“ ibu kenapa?”
“ jatuh saat ke pasar. Licin. Sakit sekali.. rasanya terseleo besok ibu coba urut..”
“ kalau gitu gak usah lagi ke pasar. Uda tau licin dan jorok. Beli aja di supermarket”
“ kalau gak beli disana. Ibu ga ada untung angel, disana lebih murah..”
“ terserah ibu.”
“ besok bantu itu dorong grobak ya ke lapak..”
Aku tidak menjawab dan tertidur. Keesokan paginya, saat aku terbangun aku melihat ibu mendorong gelobak dengan kaki yang kesakitan. Aku ingin membantu tapi tiba-tiba ada agnes dan kawan-kawan yang sedang berjalan. Karena tidak ingin malu, aku pun memutuskan untuk langsung pergi ke sekolah. Saat di kelas. Agnes dan kawan-kawan menikmati bakmi. Bakmi yang aku tau itu ia beli dari ibuku.
“ bakminya enak ya?besok beli lagi yuk. Ada yang mau nitip?”
“ beli dimana sih? “ Tanya teman yang lain.
“ tuh di ibu pincang.. di depan jalan rumah susun pasar.”
Aku jadi was-was kalau sampai tau mereka membeli bakmi itu dari ibuku. Ketika pulang aku meminta ibu untuk tidak jualan besok. Tapi ibu menolak karena tidak memiliki alasan untuk itu. Aku marah dan memutuskan pergi dari rumah malam itu. Di jalan aku bertemu dengan seorang anak yang aku rasa tinggal di  rumah susun. Ia bernama Aji. Ia manawarkan aku botol aqua saat aku termenung di teras lantai rumah susun.
“ kok bengong, neh minum..” tawarnya dan aku terdiam.
“ masih di segel kok aman. Loe anaknya sini ya? Gua temannya tetangga loe. Kita satu sekolah kok, Cuma bedanya gua uda kelas 3 loe masih kelas 1, kebetulan gua lagi ke rumah saudara gua disini dan liat loe.. ”
Aku menerima minuman itu dan mulai merasa nyaman dengan aji.
“ namanya siapa kalau boleh tau. Kok malam-malam gini diteras rumah susun sendirian?””
“ angel, gua kalau lagi BT ya disini.. dan gua emang tinggal disini gak masalah kan?“
“ gak masalah lah? Emang kenapa kalau tinggal disini?”
“ kirain masalah..?”
“oh pasti ada masalah ya. Mau cerita?”
Aku tidak bercerita padanya tapi akhirnya memiliki sahabat baru yang bisa membuatku nyaman malam itu. Keesokan paginya. Aku duduk di kelas sambil mengerjakan tugas teman-teman sekolahku. Lumayan untuk membantu uang jajanku. Tiba-tiba agnes berada di kelas bersama teman-teman genknya,
“ ngomong-ngomong, di sekolah ini yang namanya angel itu ada berapa ya? Katanya ibu bakmi itu punya anak sekolah disini namanya angel loh.. “
“ ibu bakmi yang mana?”
“ ibu bakmi yang tadi pagi kita makan, yang pincang itu..”
“ atau jangan-jangan angel yang ibu pincang itu maksud si..” kata mereka meliriku.
Aku langsung meninggalkan kelas. Apa jadinya hidupku kalau anak-anak satu sekolah ini tau kalau aku anak pedagang bakmi. Saat aku di taman, aji tiba-tiba muncul.
“ kenapa sih setiap gua ketemu loe. Loe itu mukanya kok bt selalu?”
“ gua agak sebel sama teman-teman di kelas, suka banget gossip.. jadi ga mood aja”
“ gosiipin loe..?”..” begitulah..” jawabku.
“ cuekin aja kalau gossip aja mah.. namanya gossip kan ga tentu benar. Bawa asyik aja. Eh ngomong-ngomong, kalau mau pulang sekolah nonton gimana?”
“ hm…?” kataku ragu. “ gua traktir.. tenang aja”
Dan akhirnya pulang sekolah kami pun berangkat nonton. Rasanya kehadiran aji membuat aku lebih memiliki banyak hal yang baik. Ia membuat aku merasa lebih dihargai kebanding teman-temanku yang norak dan hobbynya bergosip. Aku pulang ke rumah dan saat itu ibu melihatku bersama aji saat ia menurunkan aku dari motornya. Ia mendekatiku.
“ siapa angel?”
“ tante aku aji, teman sekolah Angel..” kata aji.
“oh iya, aku ibu angel..” kata ibu dan aku hanya terdiam,
“ kalian lapar? Kalau lapar bisa makan bakmi di tempat dagang tante…” kata ibu dan aku terkejut marah
“ aku gak lapar. Aku mau pulang aja..”
“ tante dagang bakmi..?” Tanya aji pada ibu.
“ ia dekat depan sini, ayo dicoba siapa tau bisa promosi ke teman-teman..”
“ apa-apaan sih ibu. “ kataku dan  meninggalkan mereka berdua.
Aji dan ibu hanya saling menatap.
“ maafin ya, si angel sifatnya agak gampang marah, kalau kamu gak sempat makan bakmi buatan tante bisa besok atau kapan-kapan saja..”
“ iya tante..”
Aku merasa marah karena ibu menawarkan bakmi kepada aji. Seharusnya aji tidak perlu tau ibu berdagang bakmi. Aku tidak bicara seharian dengan ibu aku jadi bingung bagaimana sekarang menghadapi aji yang pasti bertanya-tanya tentang ibuku.
Keesokan paginya sebelum sekolah, Agnes dan kawan-kawan sudah muncul di lapak bakmi ibu.
“ ibu aku mau Tanya. Anak ibu yang sekolah ditempat kami itu. Angel yang anak kelas 1 kan, itu yang mana sih orangnya?”
“ oh.. anak ibu yang tinggi dan rambutnya panjang. Tunggu sebentar. Di dompet ada fotonya..siapa tau kalian kenal.”
Lalu ibu menunjukkan foto aku dan agnes bersama kawan-kawannya langsung mendapatkan berita headlines yang luar biasa membahagiakan. Mereka langsung ke sekolah. Saat itu aku membaca komik yang aku pinjam dari temanku Hendra, ia bertubuh gemuk dan sedikit bodoh tapi menjadi sahabat baik yang selalu banyak membantuku dikelas. Saat bel berbunyi. Guru sekolahku belum masuk, tiba-tiba agnes langsung berdiri dikelas.
“ teman-teman ada pengumumanan neh..” teriak agnes.
Mereka semua langsung menatap agnes dan aku pun begitu.
“ dengerin neh ye pada.. kalau semua disini suka bakmi. Yang mau beli bakmi enak dan yang biasa gua makan sama teman-teman bisa pesan ke gua. Bakminya enak loh. Kalau kalian mau.. order di gue aja. Cuma 10.000 semangkok..lumayan itung-itung bantu ibu itu, kasihan pincang dan anaknya juga kayaknya butuh biaya buat sekolah…”
Sepertinya anak-anak sangat tertarik dengan bakmi itu. Guru sekolah masuk. Agnes pun duduk dengan senyum-senyum puas menatapku. Saat istirahat sekolah tiba-tiba ia mendekatiku.
“ ngel, neh pesanan bakmi.. kasih ke nyokap loe..”
“ apa-apaan sih loe..”
Mereka saling menatap dan tiba-tiba tertawa sambil meledekku.
“ kok loe pura-pura bego gitu sih, bukannya ibu pincang yang jualan bakmi itu nyokap loe. Tadi pagi dia cerita ke kita-kita kok. Malah minta bantuan promoin bakmi dia.. kita-kita kan baik. Akhirnya bakmi nyokap loe gua promosiin dan pesanan banyak.. nek kasih ke nyokap loe. Niat baik kok ditolak..” kata agnes sambil memberikan kertas padaku.
Aku mengambilnya dan merobek lalu melempar kepadanya.
“ loe gak usah cari gara-gara ya..berengsek” kata agnes dan kami pun berkelahi.
Setelah dipisahkan agnes berteriak-teriak menghinaku dengan wajahnya yang lebam begitu pula aku.
“ dasar loe orang miskin gak tau diuntung, uda bagus gua bantu jualarin bakmi emak loe.. sekali miskin tetap miskin!!”
Aku pulang dengan perasaan marah. Mengapa ibu tega melakukan ini dan mempermalukan aku. Saat itu aku menangis dirumah. Ibu sedang berdagang , ketika ia berjalan mengantar mangkok ke pelanggan tiba-tiba ia terjatuh karena kakinya kesakitan. Pembeli itu mendekati ibu.
“ ibu kenapa kakinya gak di urut aja sih atau bawa ke dokter..”
“ gapapa, ini entar juga sembuh sendiri.. “
Hari ini ibu pulang lebih pagi dari berdagang. Seorang pelanggan mendekat
“ kok pagi amet tutupnya, padahal saya mau makan?”
“ iya neh, anak saya ulang tahun.. saya mau ke pasar beli baju buat dia..”
Ibu sengaja menahan rasa sakit itu bukan karena ia tidak ingin pergi ke tukang urut untuk mengobatinya. Tapi ia memiliki alasan lain karena ia ingin memberikan aku hadiah, hadiah sebuah pakaian seragam sekolah baru untukku. Ia tampak puas dengan barang belajaan yang ia beli. Saat itu pulang dengan gembira  dan tiba-tiba terkejut melihat wajahku yang lebam.
“ kamu kenapa bisa kayak gini? Kamu jatuh kenapa angel?”
“ ibu mau tau kenapa? Semua gara-gara ibu, buat apa ibu minta agnes untuk bantuin jualan bakmi di sekolah, ibu gak tau semua orang jadi tau aku anaknya tukang jual bakmi pincang itu!!”
Tiba-tiba ibu menamparku dan itulah tamparan pertama dia dalam hidupku. Aku marah dan pergi dari rumah berlari diatas hujan lebat. Ibu menangis dan terduduk di kursi meja makan dengan wajah lesuh. Aku tidak tau harus berlari kemana dan tanpa arah. Aku hanya terduduk dan terdiam diantara hujan dan menangis. Merasa hidup ini tidak pernah adil, mengapa aku harus mengalami kemiskinan. Aku tertidur di halte bus. Dan saat aku bangun hujan telah hilang. Jam 11 malam saat itu.
Aku berjalan pulang dan tiba-tiba seorang tetangga memberitahu aku kalau ibu terjatuh dari tangga. Kini ibu sedang dirawat dirumah sakit. Aku terkejut dan langsung menuju rumah sakit. Melihat ibu dengan keadaan kakinya penuh bebat. Ia patah kaki karena terjatuh dari tangga.
“ kenapa ibu bisa sampai begini?” tanyaku.
“ ibu ingin turun dan cari kamu tiba-tiba ibu terjatuh dari tangga, ibu minta maaf sudah menampar kamu..”
Aku terdiam dan berusaha melupakan masalah itu. Dokter kemudian memeriksanya dan ia berkata padaku ibu  harus menginap beberapa hari.
“ kata dokter ibu gak boleh pulang dulu, ibu harus di rawat disini. “
“ tapi biaya rumah sakit mahal, kita mana mampu angel..”
“ mana aku tau.. siapa suruh ibu jadi begini. Angel mau pulang dulu. Ngantuk dan besok harus sekolah.”
Kataku kesal walaupun merasa kasihan terhadap ibu tapi harga diriku terlalu tinggi untuk menunjukan rasa peduliku pada ibu. Saat aku pulang tiba-tiba aku melihat, kue ulang tahun kecil dan baju seragam sekolah baru. Saat itulah aku sadar, ibu menyiapkan ulang tahunku hari ini. aku terlalu sibuk karena stres memikirkan masalah sekolah sampai tidak sadar. Seragam baru itu membuatku sedikit bisa pamer besok di sekolah. Ingin aku mengucapkan terima kasih pada ibu tapi sayang ia tidak ada rumah. Minimal besok, aku bisa katakan itu bila aku ingat!!
***
Ibu bisa keluar rumah sakit tiga hari kemudian dengan biaya uang yang sangat banyak dan menghabiskan tabungan. Untuk sementara ia tidak berdagang bakmi dan itu bisa membuatku selamat dari gosip agnes yang sedang gencar2nya meledekku dengan anak tukang bakmi. Walau tanpa penghasilan, tapi aku bisa bertahan dengan uang tips mengerjakan pr teman-teman sekelas. Aku tidak lagi butuh uang jajan dari ibu.
2 bulan kemudian ibu sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat. Suatu malam aku tidak mampu bangkit dari tempat tidur dan Tubuhku panas dingin. Ibu cemas dan membawaku ke dokter. Ternyata aku terjangkit virus demam berdarah dan masuk fase kritis. Biaya yang sangat besar membuat ibu sangat bingung dengan keadaannya yang tidak lagi berdagang bakmi. Tanpa memikirkan biaya ibu memaksakan aku dirawat. Saat itu ia hanya terdiam lemas menatapku tak berdaya. Dan dirumah sakit itu ada seorang suami yang menangis karena istrinya sekarat. Ia membutuhkan ginjal untuk istrinya. Tapi tidak ada donor yang bersedia untuk menolong kelangsungan istrinya. Ibu mendekat dan tiba-tiba ia menawarkan dirinya. Orang itu menawarkan sejumlah uang pada ibu. Demi aku, ibu pun rela menyumbangkan satu ginjalnya.
Berkat ginjal yang ibu sumbangkan aku bertahan hidup Karena ibu langsung memindahkan aku ke perawatan yang terbaik di rumah sakit itu.  Saat aku sembuh beberapa hari kemudian, aku tidak melihat ibu. Aku hanya melihat Aji datang bersama Hendra sahabatku. Sampai akhirnya aku keluar rumah sakit beberapa hari kemudian. Tidak ada yang menjemputku, mereka bilang ibu sedang keluar kota untuk bertemu dengan keluarganya meminta bantuan uang. Padahal yang aku tau biaya rumah sakit telah terlunasi. Ibu sengaja bilang ia keluar kota agar ia tidak tau kalau ia dalam masa perawatan.
Tapi aku salah dan semakin menyadari kehilangan ibu. Sudah dua minggu aku tidak melihat ibu dan akhirnya seorang tetangga memberitahu aku kalau ibu dirawat dirumah sakit yang sama dengan anaknya sebab mereka tidak sengaja melihart ibu. Aku langsung menuju rumah sakit. Ibu tergelatak lemas di tempat tidur. Ia melihatku dengan air mata.
“ kenapa ibu bisa dirawat disini? Ibu sakit apa?”
“ ibu gapapa, sebentar lagi juga bisa keluar..”
“ ibu katakan pada angel, ibu kenapa.. jujurlah ibu..”
“ ibu gapapa nak.. ibu Cuma sakit..”
Aku tidak memaksa ibu untuk jujur lagi karena ia seperti kesakitan menahan perutnya. Malam itu aku menjaganya. Tiba-tiba ibu mengajakku bicara. Aku jadi ingat seragam sekolah dulu.
“ ibu.. terima kasih baju sekolahnya.. angel belum sempat bilang kemarin..”
“ iya nak, sama-sama. Angel maafkan ibu, bukan ibu selama ini tidak ingin membahagikan kamu. Ibu tau kamu marah karena kematian ayahmu. Ibu sudah berusaha untuk sebisa ibu membahagiakan kamu seperti saat-saat kita dulu bersama ayah. Tapi ibu gagal, ibu hanya bisa membuat kamu marah. Ibu benar-benar menyesal, maafkan ibu“
“ kenapa ibu bicara seperti ini, sudah tidak usah dibahas. Angel juga gak pernah berpikir begitu”
“ ibu, bukanlah ibu yang baik. Sampai tidak mampu membelikan kamu celana dalam ketika kamu dewasa bahkan tidak tau bagaimana harus membelikan kamu baju baru, ibu menahan rasa sakit di kaki ibu hanya untuk mengumpulkan uang agar kamu mendapatkan pakaian yang layak, tapi sebanyak apapun ibu bekerja, hutang yang ayah kamu tinggalkan tidak pernah habis.. bahkan hingga detik ini.” kata ibu menangis
“ sudah bu.. jangan teruskan.. angel minta maaf. Angel ga pernah ngerti perasaan itu. Angel egois dan tidak terima pada kenyataan kalau kita memang sudah bukan yang dulu..” kataku memeluk ibu yang menangis.
“ ibu hanya berharap. Ibu bisa mengubah keadaan seperti dulu lagi.. Cuma itu nak..”
Malam itu, aku baru tau betapa besar pengorbanan ibu padaku, rasa egois yang membuatku sadar bahwa aku begitu durhaka tak pernah menghargai pengorbanan yang ia lakukan. Aku memeluk ibu dan berjanji dalam hatiku ketika ia sembuh, aku akan membahagiakan dia dengan cara apapun. Ibu tidak semakin baik dari hari ke hari. Sampai akhirnya, ia meninggal malam setelah memelukku. Aku menangis kehilangan ibu dalam hidupku.
Dokter mengatakan ibu tidak mengalami hal baik setelah mendonorkan satu ginjalnya. Hal yang membuatku begitu pilu dan sedih, ibu melakukan semua itu untuk membuat hidupku terus ada. Ia rela menjual ginjalnya agar hutang ayah terlunasi. Agar masa depanku terjamin dengan uang donor itu tapi ia sendiri harus pergi dengan keadaan tanpa pernah melihatku dewasa seperti impiannya.
Hal terakhir yang ia katakan padaku, membuatku begitu berat untuk melupakan semua kebaikannya.
“ bagaimanapun ibu marah padamu, kemarahan ibu adalah kasih sayang. Tidak ada ibu yang akan marah tanpa alasan kepada anaknya. Kelak ketika kamu menjadi ibu,kamu akan mengerti, ibu di dunia manapun selalu ingin anaknya bahagia. Walau dengan kemarahan caranya..”
Andai saja ada penyesalan dan waktu yang berulang, aku tidak akan pernah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupku menyia-yiakan pengorbanan ibu.
Tapi waktu adalah tempat yang kejam bagi mereka yang tidak pernah bisa menghargainya, seperti aku yang hanya bisa menangis menatap waktu-waktu indah yang seharusnya aku gunakan bersama ibu tapi kini hanya bisa terkenang dalam kenangan.
Semoga kisah ini bisa mengajarkan kita untuk mengerti
Kasih ibu mungkin tidak akan sempurna bagi hidup kita. Tapi kasih ibu adalah kasih tanpa balasan yang tidak akan pernah tergantikan dengan kesempurnaan hidup apapun di dunia ini.
tamat
READ MORE - IBU- AKU MENCINTAIMU…