Hari ini begitu
mendebarkan untukku, ibu mulai bersikap lunak padaku. Ia mulai terbiasa
denganku tidak seperti awalnya yang terlihat judes dan cuek. Kini aku
mulai bisa makan bersamanya satu meja. Adikku Malvin tampak senang.
Besok ia dan Ibu akan membeli baju untuk persiapan sekolahnya. Aku
menitip pesan padanya untuk tidak nakal dan belajar sungguh-sungguh. Aku sadar di Meja makan ini akan ada satu hal yang tidak ingin aku utarakan. Namun ibu sudah memulainya.
“ Tiara, kamu sudah memutuskan untuk sekolah dimana?” Tanya Ibu.
“ Aku.. Aku belum memutuskan, Bu..” jawabku
“ Kenapa belum…”
“ Gapapa. Masih lama. Biarkan saja waktu berlalu yang penting aku fokus terhadap nilai ujian..”
“ Tapi ujian saringan masuk kan lebih awal.. apa kamu khawatir terhadap biayanya..?” Tanya Ibu padaku.
“ Hm..” aku tertunduk tidak menjawab.
Ibu tersenyum padaku. Lalu mendekat kursiku. Ia membelai kepalaku dengan lembut sambil berkata.
“ Kamu ga usah
khawatir.. Ibu sudah mepersiapkan segalanya.Tuhan memberkati ibu,
kemarin-kemarin ada teman Gereja ibu yang sudah memesan Kue untuk setiap
acara gereja, jadi pesanan itu berlangsung selama 3 bulan. Dan ibu
sudah minta uangnya dulu untuk kamu. Jadi kamu ga usah cemas. Kamu pilih
saja sekolah yang kamu mau. Tapi sesuai dengan kemampuan ya..”
Aku tersenyum bangkit dari kursiku.
“ Bener.. bu.. jadi Tiara bisa masuk SMA.. “ Tanyaku dan ibu tersenyum
“ Terima kasih ya.. Bu.
aku sayang Ibu.. “ kupeluk ibuku dengan erat. Hatiku bersuka cita atas
karunia yang diberikan oleh Tuhan. Setidaknya aku masih mempunyai mimpi
tentang pendidikan yang bisa aku raih. Malam itu kami berdoa bersama.
Memuji dan memuliakan Tuhan. Ia sayang dan mencintai keluarga kami.
Dion menitip pesan
kepada Vina agar aku menunggunya sepulang sekolah karena ia akan
mengajakku untuk jalan. Aku ingin menolak tapi Vina mengingatkan aku
untuk tidak, karena Vina tau benar siapa Dion yang sangat berbesar hati
pada aku dan keluargaku. Ia tau sekali siapa yang menyelamatkan Ibuku
ketika terdesak biaya Rumah sakit. Walaupun ia merahasiakan padaku, tapi
aku pun memang ingin bertemu dengan Dion. Aku pun menunggu hingga
pulang sekolah bersama Vina.
Aku dan ibu berserta
adikku pergi ke pasar untuk memilih bajunya. Tentu saja untuk baju
seragamku. Ntah sudah berapa lama kami tidak pernah melakukan hal yang
sama. Bagi keluarga kami, apa yang bisa masih kami pakai di tubuh kami.
Akan kami pakai selalu, bila robek kami akan menjahitnya.bila kotor kami
akan mencucinya. Semuanya kami lakukan agar tetap bisa digunakan. Dan
baju baru baru kami beli saat Natal tiba. Kami tidak mengeluh terhadap
apa yang bisa kami pakai, ibu selalu berkata padaku. Yang terpenting di
hadapan Tuhan bukanlah apa yang kita tampilkan diluarnya. Tapi apa yang
kita tampilkan di hati kita untuknya.
Dion sedang makan siang
ke Mal bersama sahabatnya bernama Rocky. Mereka tampak bicara serius.
Temannya tampak terkejut ketika Dion berkata jatuh cinta padaku. Walau
Rocky tidak pernah melihatku, tapi ia menjadi penasaran. Karena ia tau
benar tipe Dion yang tidak akan mudah membuatnya jatuh cinta. Ini adalah
sebuah fenomenal seorang Dion bila mencintai seorang aku yang miskin
dan tidak mempunyai kecantikan apapun yang bisa memikatnya.
Suara dering telepon terdengar dari hendphone Dion. Pembantu rumahnya menelepon.
“ Nyonya di bawah ke Rumah sakit sumber Waras karena tiba tiba pingsan di kamarnya.”
“ Apa.. “ teriak Dion panik dan segera beranjak dari tempatnya menuju Rumah sakit.
Dion dan Rocky langsung
menuju rumah sakit. Ibunya berada di Ruang Unit Gawat darurat karena
masih krisis, Dokter mengatakan kepada Dion, ibunya terkena serangan
jantung sehingga tidak sadarkan diri. Disinilah Dion merasa sangat
sayang pada ibunya. Ia sadar ibunya hanyalah manusia yang tidak akan
pernah lepas dari sebuah kesalahan. Bagaimanapun Tante Lusi adalah
ibunya. Orang yang telah melahirkan, dan membesarkan dia hingga menjadi
seorang Dion seperti sekarang.
Aku menunggu dibalik
Hujan yang turun. Berteduh disamping sekolahku. Vina harus pamit karena
harus berkerja sehingga aku seorang diri sekarang. Aku bertanya dalam
hatiku, mengapa Dion datang terlambat hari ini. Bukannya ia selalu
datang tepat waktu. Ingin rasanya aku pulang saja namun terlambat. Hujan
terlalu besar dan mencegat langkahku. TIba-tiba beberapa saat kemudian
aku melihat mobil Dion menepi di sekolahku. Mobil itu berhenti, aku
melambaikan tanganku. Karena aku pikir hujan menutup keberadaaanku. Tapi
yang muncul dari mobil itu bukan Dion. Dengan sebuah payung , sosok
pria asing muncul berlari mendekatiku.
“ Maaf kamu Tiara..?” Tanya Pria itu.
“ Iya, kamu siapa..?”
“ Aku Rocky teman Dion, Dion meminta aku menjemput kamu. Karena dia berhalangan hadir karena ibunya dirawat dirumah sakit.”
“ Hah.. tante Lusi di rumah sakit. Emangnya dia kenapa?”
“ Baiknya kita bicarakan dalam perjalanan.. kamu masuk ke mobil dulu yuk. “
Aku hanya mengikuti apa
yang Rocky katakan. Sepanjang perjalanan ia pun bercerita tentang
kejadian yang menimpa ibu Dion. Setiba di rumah sakit, aku langsung
menemui Dion yang tampak sedih sedang menunggu Ibunya di Unit Gawat
Darurat.
“ Dion..aku turut prihatin..”
Dion yang tampak sehabis menangis. Tiba tiba memelukku.
“ Aku takut ibuku pergi.. aku takut.. aku belum sempat meminta maaf karena apa yang telah aku perbuat padanya aku takut Tiara..”
“ Dion.. percayalah pada Tuhan. Kita berdoa semoga kejadian ini dapat kita lewati dengan mujizatnya.kamu percaya kan..”
“ Aku percaya…”
Aku , dion dan Rocky
berdoa bersama untuk memohon keajaiban Tuhan di hari ini. Untuk Tante
Lusi yang sedang menghadapi masa-masa krisis. Agar segera bangkit dan
dapat sehat kembali. Waktu berjalan dan semuanya keadaan mulai
terkendali, Dokter berhasil menyelamatkan Ibu Dion. Ia mulai dipindahkan
ke tempat biasa. Ibuku mengerti keadaanku, ia membiarkan aku untuk
menemani Dion selama aku mempunyai waktu.
Dion setia menjaga
ibunya setiap saat disampingnya, ia terus membaca alkitab sesuai
saranku. Aku menjenguk setiap pulang sekolah, Vina juga sudah menjenguk.
Dan sebuah pernyataan yang tidak pernah aku duga sebelumnya keluar dari
mulut Vina..
“ Aku minta maaf ga jujur tentang masalah ini. Dulu yang membaya semua biaya rumah sakit itu kamu. Adalah Dion..”
Aku sulit mempercayai
mengapa Dion menyelamatkan ibukku yang bahkan saat itu tidak ia kenal.
Aku ingin berterima kasih padanya. Namun belum saat ini, keadaanya pun
sedang gundah. Aku juga tidak pernah berhenti agar Tante Lusi lekas
sadar. Dan doa kami terjawab, ketika aku tiba Dion sudah mulai bicara dengan ibunya,
“ Mami.. mami gapapa?”
“ Dion.. Mami.. kangen sama kamu…nak”
“ Dion juga Mami..” ucap dion mencium jemari ibunya.”
“ Maafin sikap Dion selama ini ya Mami.. Mami harus cepat sembuh. Supaya kita bisa berkumpul kembali..”
Aku masuk tiba tiba dan tante Lusi melihatku.
“ Maaf. Aku ga sengaja.. permisi” ucapku keluar dari ruangan itu terburu-buru.
“ Dia kan.. Tiara..?” Tanya Tante Lusi pada Dion.
“ Iya, Mi. Dia Tiara. Dia yang temenin Dion selama Mami ga sadar.. “
Tante Lusi hanya tersenyum..
“ Kamu mencintai dia…”
Dion terdiam tidak ingin bicara tentang hal ini karena ia takut membuat ibunya semakin sakit.
“ Kalau mencintai dia membuat Mami seperti ini. Lebih baik Dion mengorbakan cinta Dion.. Mami segalanya untuk Dion..”
“ hus.. kenapa bicara seperti itu.. Mami ingin bicara sama gadis itu. bisa kamu panggil dia..?”
Dion mungkin merasa
aneh dengan permintaan ibunya. Tapi aku yang paling merasakan sangat
grogi dan takut. Kami berdua diruangan itu tanpa Dion yang menunggu
diluar.
“ Tiara.. sini duduk disamping Tante..” ajaknya dan aku duduk disampingnya
“ Maafin tante ya.. sikap Tante selama ini..”
“ Tante jangan bilang begitu. Tiara yang harusnya minta maaf karena banyak salah sama Tante.. “
“ Ngak Tiara.. kamu ga
ada salah sama Tante..Tante sadar semuanya. Kamu memang anak yang baik.
Tante menyesal telah melakukan kesalahan yang tidak seharusnya..apakah
kamu mau maafkan Tante.?”
“ Tanpa permintaan maaf dari Tantepun, aku sudah memaafkan sejak dulu.?”
Tante Lusi tersenyum padaku.
“ Kamu suka Dion..?” tanyanya padaku dan aku tersipu malu tak menjawab.
“ Kalau kamu suka sama
Dion. Tante akan mendukung kamu. Kamu perlu tau satu hal Tiara. Sejak
mengenal kamu Dion menjadi pribadi yang bisa menghargai dan menolong
orang lain. Mungkin didikan Tante salah padanya sehingga dulu ia menjadi
pribadi yang sombong dan tidak punya rasa social pada siapapun. Tapi
dengan kamu, semuanya berubah.. Tante merasa berterima kasih..terlebih
sekarang kami sudah bisa bersama lagi..”
Aku menatap Tante Lusi dengan senyumku sambil berkata
“ Tante semua ini
adalah jalan Tuhan. Kita melewati semuanya dengan apa yang ia jalankan.
Tuhan sayang sama Tante dan Dion. Itu semua bukan karena aku. Mungkin
aku hanya sebagian titik dari perubahan itu..”
“ Dion mengatakan pada Tante ia sangat mencintai kamu.. maukah kamu menjaganya untuk Tante..”
Aku terdiam dan hanya
memberikan senyuman untuk menjawab semua itu. Usai perbicangan singkat
dengan ibu Dion. Dion selalu bertanya hal yang sama denganku tentang apa
yang ibunya katakana. Aku tidak memberi tahu apa yang kami bicarakan.
Rasanya itu adalah rahasia kami. Ibu Dion kembali ke rumahnya setelah 3
minggu menjalani rawat inap. Ia sembuh berkat mijizat Tuhan. Namun untuk
memastikan semua baik. Dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan
di Singapura. Artinya aku harus berpisah dengan Dion.
Dion mengajakku untuk
kembali ke tempat yang sama. Dimana pantai Bunda Maria berdiri tegak
dengan senyum manisnya. Kami bicara dengan penuh harapan.
“ Tiara aku akan pergi
dari sini untuk waktu yang lama. Dokter menyarankan ibuku dirawat jalan
di Singapore sampai dia sembuh total. Mungkin kita akan berpisah..”
“ Aku tau.. dan aku berharap ibu kamu sembuh Dion..!”
Kami terdiam. Termenung
menyadari kami akan berpisah. Aku ingin bertanya tentang banyak hal
namun aku takut. Dalam hatiku sadar ini adalah sebuah kehilangan.
“ Kamu tau kamu akan pulang..?” tanyaku pada Dion.
“ Aku tidak tau.. tapi aku harap aku pulang secepatnya. Agar aku bisa bertemu dengan kamu..”
“ Dion.. aku minta maaf
ya membuat kamu repot dalam banyak hal. Aku ingin berterima kasih atau
bantuan kamu sama ibuku. Kamu ga usah menutupi lagi tentang hal ini. Aku
sudah tau dari Vina.”
Dion tersipu malu. Aku mendekati pria itu. lalu kepeluk dia dengan ucapan terima kasih.
“ Aku harap ketika kamu disana, kamu dapat dekat dengan Tuhan..”
“ Tiara.. bolehkah aku tau jawaban. Tentang perasaan di hatiku.. “
Aku mundur selangkah. Aku berpura-pura tidak mengerti tentang apa yang ia tanyakan padaku.
“ Tentang apa..”
“ Bolehkan aku mengharapkan kamu lagi sebagai kekasihku..”
Aku bergerak berjalan mendekati patung Bunda Maria. Menatapnya . lalu aku berkata
“ Mungkin aku terlalu
kecil untuk mulai mempunyai kekasih. Namun aku harap saat kamu kembali.
Aku sudah cukup dewasa untuk merayakan natal bersama kamu..apa itu
mungkin..?”
“ Mungkin saja.. kenapa
tidak. Aku akan berusaha untuk itu. Gimana kalau kita berdoa lagi sama
Bunda Maria tentang harapan kita ke depan.”
Aku hanya tersenyum. Mengikuti langkahnya. Kami berdoa bersama. Lalu usai itu Dion bertanya padaku seperti dulu.
“ Sekarang katakan apa Doamu pada Bunda Maria?”
“ Kamu benar-benar ingin tau..?” tanyaku.
“ Iya.. benaran . aku pengen tau..”
“ Aku berdoa agar ibu kamu lekas sembuh..”
Dion tampak kecewa
“ Cuma itu saja.. ga ada yang lain..” aku mengeleng-gelengkan kepalaku member tanda tidak ada.
“ Kalau kamu.. apa yang kamu mohon?”
“ Kamu mau tau..?” tanyanya. Dan aku tersenyum.
“ Aku ingin kamu menunggu hingga aku kembali..”
Harapan itu menjadi
pertemuan terakhir kami. Aku sedih melepas segalanya, tentang Dion yang
sangat berarti buatku. Tentang kisah perjalanan kami yang sangat indah.
Dan tentang karunia Tuhan yang sejenak telah mempertemukan kami. Sangat
indah walau itu hanya sesaat tapi banyak hal yang tersimpan dalam
perjalanan pertemuan kami. Tuhan aku memohon jangan pisahkan kami untuk
selamanya. Aku rela untuk menunggu walau itu sepuluh tahun atau selama
nafasku masih bisa bernafas untuk menantinya.
***
Waktu berjalan seiring
kepergian Dion dalam hidupku. Aku sudah memakai seragam abu-abu putih
sekarang dan adikku sudah masuk kelas 3 sekolah Dasar. Ibu sudah tidak
berdagang di pasar lagi, karena kuenya banyak disukai di Perkumpulan
Gerejanya dari mulut ke mulut dan akhirnya ia kini memperkerjakan satu
pegawai untuk membantunya. Keadaan ekonomi kami mulai membaik, tapi kami
tetap hidup sederhana. Kami mensyukuri apa yang Tuhan berikan pada
kami. Ibu selalu mengajarkan aku untuk berbagi kepada siapapun yang bisa
kami bantu.
Vina dan aku kembali
satu sekolah bersama. Natal kali ini menjadi natal ketiga setelah Dion
pergi dalam hidupku. Mungkin ia telah lupa segalanya tentang apa yang
pernah kami janjikan. Adikku Malvin senang bukan main ketika ibu
akhirnya mampu memasang Pohon natal lengkap dengan hiasan lampunya
dirumah kami. Ia selalu duduk disamping dan bahkan ingin tidur disamping
pohon itu setiap malam hingga Natal tiba.
Vina selalu melihatku
gundah setiap Natal sama seperti terjadi dua tahun lalu. Aku selalu
bilang padanya, aku berharap natal yang sudah berjalan dua kali itu Dion
datang padaku dan merayakan hari kebesaran umat Kristen itu bersamaku.
Tapi tampaknya sama seperti sebuah dongeng saja. Bahkan aku rela
menuliskan sebuah tulisan di kantong kaos kaki Sinterklas yang kutulisan
“ Pak Sinterklas. Semoga saja Dion hadir tahun ini merayakan natal bersamaku.” Tulisku.
Mungkin aneh dan
terkesan lucu. Tapi aku selalu percaya terhadap apa yang aku ingat sejak
kecil. Bahwa Sinterklas akan memberikan apa saja permintaan bagi
anak-anak yang tulus. Aku mungkin tidak tulus dan bukan lagi anak-anak.
Tapi biarkanlah itu menjadi rahasiaku bersama kaos kaki milik Pak
sinterklas yang selalu dipajang di sekolah kami. Ibu mengudang Vina
untuk merayakan Natal bersama dirumah kami. Tapi sebelumnya kami pergi
ke Gereja untuk merayakan misa Natal bersama.
Sepulang dari Misa
natal. Adikku sudah berlari sendirian hingga kami panik kehilangan
jejaknya karena ia rindu terhadap pohon natalnya dirumah. Melvin
terjatuh dengan Luka penuh darah di dengkulnya. Diantara keramaian itu
kami bahkan harus mencarinya karena ia menghilang begitu saja. Kami
hanya bisa mendengar tangisnya yang terus memanggil nama Ibu dan aku.
Setelah aku tiba dan menemukan dia. Dia tampak tersenyum dan tidak menangis lagi. Lukannya telah ditutupi oleh sebuah sapu tangan milik orang lain.
“ Sapu tangan ini punya siapa, Melvin tanyaku.”
“ Punya…??” Melvin mencari-cari orang yang memberikan sapu tangan padanya.
“ Tadi kakak itu ada disini. Terus dia menghilang..”
Kami kebingungan
terlalu banyak orang di sini. Dan tiba tiba Melvin menunjuk pada
seseorang yang tak aku duga. Pria itu tersenyum padaku, tapi aku hanya
bisa manangis haru, karena akhirnya Natal impianku benar benar terjadi.
Dion kembali dan kami bertemu di sini. Aku tidak perlu bertanya mengapa
ia begitu lama kembali. Aku berlari memelukknya , aku sangat rindu
padanya. Dan ibunya muncul bersama ibuku. Mereka saling bersalaman.
“ Kamu kok lama sekali perginya..”
“ Maaf ya.. ibuku harus ke Amerika. Dan dua tahun kami disana. Aku sudah mencoba mengirimkan surat.apakah tidak sampai..”
Melvin berlari padaku.
“ Oh jadi surat yang pake tanda asing itu dari kakak ya. Aku jadikan kapal-kapalan lalu aku buang di jalan..”
Kami semua tertawa. Itu
sudah tidak penting lagi. Kami sudah berkumpul. Impian natal indah
bersama Dion aku jalanin. Tuhan terima kasih. Kini Sinterklas itu nyata
dan menwujubkan mimpiku walau itu hanya aku yang tau. Bagaimana dengan
kalian?
Tamat


0 comments:
Post a Comment