Tiara berada di pasar
dimana ia mengajar di gubuk kecil dan beberapa anak kecil tampak begitu
antusias mengikuti apa yang ia ajarkan hingga seorang anak laki-laki
bercerutuk
“Kak, kak Dion kemana. Katanya mulai hari ini dia mau ngajarin kita bahasa English.”
Tiara terdiam , menatap anak kecil polos yang penuh harapan itu.
“ Kak Dion lagi ada urusan nanti kalau dia uda sembuh pasti akan ajarin kalian lagi..”
‘ Gitu ya.. “
Tiara kemudian
memerintahkan anak-anak untuk membaca dan ia hanya bengong di mejanya.
Wajahnya teringat sekilas tentang Dion. Sedangkan Dion dalam perjalanan
busway masih teringat tangis daripada seorang Tiara. Bagaimana mungkin
seorang wanita perkasa seperti dia menangis dihadapannya. Ia juga agak
malu dengan tindakanTiara yang mengfitnahnya telah menghamili Tiara.
Ketika ia tiba di rumah. Ia langsung melempar tubuhnya di ranjang dan
berpikir. Berpikir tentang gadis bernama Tiara.
Sedangkan Tiara kembali
ke rumah. Ayahnya yang seorang pensiunan TNI tampak memperhatikan
putrinya yang pulang dengan wajah cemburut. Ia bertanya beberapa hal
kepada anak gadis yang ia miliki satu-satunya. Tiara ditinggal ibunya
yang meninggal karena kanker. Sejak kecil ia sudah belajar berbagai ilmu
pencak silat sehingga tidak heran kemampuannya yang pandai bersilat dan
tegasnya di turunkan dari ayahnya yang sudah biasa berperang di medan
tempur.
Dion tertidur dengan
wajah lemas hingga tak sadar air ludahnya meleleh di bantalnya. Ibunya
yang tambun memasuki kamar langsung menindih tubuh anaknya yang kurus.
Dion terkejut berteriak kesakitan.
“ sekarang loe ngomong sama emak. Loe ini hamili anak siapa. Si Anton tadi ngadu ke emak. Cepet ngaku..!”
“ aduh mak. Sabar dulu dong. Jangan asal main gencet. Bisa gepeng neh. Dion bisa jelasin semua!”
Ibunya berdiri. Dion tampak kesakitan.
“ cepet kasih tau yang jelas…”
“ itu Cuma gossip mak, itu mah kerjaan gadis aneh itu. orang Dion aja ga kenal-kenal banget sama dia..”
“ loe yakin.. tapi gossip uda sampe satu RT sampe satu kampus. Mau ditaruh mana muka emak loe ini.”
“ ah…….. tau ah.. pusing. Ga di kampus , di rumah , di omelin terus..!”
Dion berbalik ke
ruangan toiletnya lalu memandang cermin. Ibunya tampak marah kemudian
keluar Dari kamarnya. “ sial neh.. gara gara dia gua malu se dunia
bisa-bisa.. apa sih maunya..”
Tiara berangkat seperti
biasanya jalan tanpa arah. Ia melakukan itu untuk melupakan kekasihnya
yang telah pergi untuk selamanya karena kecelakaan motor. Ia suka minum
hingga mabok dan tertidur dimana saja dimana ia suka. Sikapnya yang
ingin jelas dan tidak suka sesuatu yang menganggu membuatnya seperti
polisi jalanan. Apa yang ia ingin katakan selalu ia katakan tanpa
mengenal perasaan orang lain. Tanpa sadar apa yang ia rasakan ketika
bertemu dengan Dion mengingatkan dia akan sang kekasih.
Dan hari yang sama
terulang ketika Tiara sedang tertidur di halte bus. Dion melihatnya, ia
sadar gadis itu banyak musuhnya. Akhirnya ia memapa gadis itu ke
rumahnya. Ibu Dion panic bukan main ketika Dion membawa seorang gadis
muda ke rumahnya. Dion menidurkan Tiara di kamarnya. Lalu ia berkata
pada ibunya bahwa gadis itu adalah sahabatnya. Ia sedang butuh
istirahat. Dion harus pergi kuliah karena sudah terlambat untuk membawa
Tiara.
Beberapa saat kemudian Tiara terbangun. Ibu Dion menyambut gadis itu dengan kegilangan.
“ uda bangun..”
“ ini dimana..”
“ di rumah dion. Loe di
bawa anak gua tadi. Dionnya lagi ke kampus..nama loe Tiara kan.. gua
uda denger dari si Anton.. katanya loe lagi ngandung anak Dion ya..”
“ hah…” Tiara bingung.
“ Uda ga usah
malu-malu. Tante juga dulu gitu kok, jaman sekarang emang uda susah deh
cari yang nikah terus punya anak. Cuma bagusan nikah deh cepet cepet..
biar ga jadi omongan orang.. !”
“ tante ngomong apa sih.. ga ngerti..”
“ loh.. kok jadi aneh..”
Tiara pun akhirnya
sadar ia berbohong pada Ibu dwi dan tidak menyangka berita itu menjadi
luas seperti sekarang. “ Tante , tiara mau sih nikah cepet. Tapi ntar
deh.. anak ini juga baru seminggu belum 3 bulan.. hehehe”
“ ya itu sih terserah loe aja deh. Tante mah ikut aje..yang pasti tante senang punya cucu hahahaha”
Dion pulang dan
menemukan Tiara sudah pergi dari rumahnya. Ibunya bilang Tiara harus
pergi untuk kerja. Dion pun langsung menuju maksud Tiara. Sebuah pasar
dimana Tiara harus mengajar. Dion berdiri didepan pintu ketika Tiara
sedang berbicara dengan anak-anak.
“ Kak, katanya ujian
tingkat persamaan A itu ada bahasa English. Kita-kita kan ga bisa.
Gimana dong. Padahal kalau kita-kita lulus ujian persamaan ini. Kita
bisa terusin ke sekolah umum buat dapat beasiswa.!!”
Tiara terdiam..
“ kakak coba berusaha ajarkan yang kakak bisa. Kalian pasti berhasil..”
“ lalu kak Dion bagaimana..? kan dia uda janji sama kita-kita..”
Tiara terdiam tak dapat menjawab. Tiba tiba Dion muncul.
“ Kakak disini dan akan membantu kalian mencapai mimpi.!”
Kedatangan Dion
disambut meriah oleh anak-anak. Tiara tersenyum kecil dengan apa yang ia
lihat. Dion memastikan dirinya akan selalu ada untuk anak anak yang
penuh harapan ini. Ia akan berdosa bila karenanya masa depan anak ini
akan lenyap, kini Tiara tidak sendirian. Ia akan selalu ada
disampingnya.ujian yang akan datang akan menjadi hari akhir dimana Tiara
mendampingi mereka, karena masa depan mereka kelak ditentukan oleh
sekolah mereka.
***
Rekan Dion mengadakan
jamuan makan malam. Dion di haruskan membawa pasangan. Ia berpikir untuk
membawa Tiara. Walau ia tidak yakin Tiara akan mau, tetapi dia tidak
ingin mencari alasan bila tiara mencarinya ia tidak ada. “ Pesta, yauda
boleh gua mau ikut” jawab Tiara dan mereka pun pergi bersama-sama menuju perjamuan malam itu. Tiara
tampil seperti biasa dengan celana jeans dan kaos standar. Dion
bersamanya menuju undangan. Sang tuan rumah menyambut mereka dengan
baik. Hari itu menjadi hari pertama mereka membuka restorant. Sehingga
udangan itu boleh dikatakan makan gratis. Berbagai menu berbaris rapi
disetiap meja. Tiara dan Dion duduk sebaris dengan tamu-tamu penting.
“ makanan ini ga enak..” teriak Tiara . semua tamu yang sedang makan terdiam sesaat mendengarkan
“ sst.. ga enak ya jangan kencang2-.” Ucap Dion
“ Gua yakin neh ini restorant bakal tutup dalam 3 bulan. Biasanya kalau gua makan ga enak pasti tutup. !”
“sst. Iya.. iya tapi ga usah kencang-kencang.. “
Sang tuan rumah mendekati.
“ hehe.. neng kenapa ya..ada masalah?” Tanya tuan rumah
“ oh ga ada apa apa. Kok.. dia keenakan sampai ngoceh2 sendiri,..” ucap Dion berusaha menarik lengan tiara untuk tidak bicara.
“ bohong.. “ plok ketok tangan Tiara ke kepala Dion.
“ gini ya.. ini Cuma
saran aja.. gua sih ngerasa makanan di restorant loe itu ga enak. Dari
pada bangkrut mendingan loe cepet2 ganti koki deh.. yang masak ini siapa
sih?”
Sang pemilik resto tampak malu dihadapan tamu. Ia
melihat kiri –kanan dan memang semua tamu yang hadir mungkin merasakan
hal yang sama tapi mereka menghormati tidak seperti Tiara yang langsung
ceplas ceplos.
“ SAYA YANG MASAK MAKANAN INI KALAU KAMU GA SUKA SILAKAN KELUAR..”
“ Ops.. emang gua keluar. Gua takut perut gua rusak , dion ayo pergi..!”
Dion berusaha meminta maaf dan kemudian pergi bersama Tiara. Diluar mereka tampak ribut besar.
“ loe ini pernah sekolah ga sih. Kok bisa-bisanya ngomong gitu ke orang. Hormati dong , kita ini tamu tau ga?”
“ih.. kok loe yang
sewot emang nyatanya kayak gitu mau gimana lagi. Masa gua mau bohong.
Gua bilang ga enak ya ga enak.. uda bagus gua kritik. Daripada di
bangkrut”
“ tapi itu bukan hak loe. Gua malu banget tau ga. Dia itu rekan emak gua..!”
“ terus mau gimana lagi uda terjadi …!”
Dion terdiam.. melotot.
“ gua nyesel banget ngajak loe. Gua ini uda menduga sejak awal mulut loe itu ga bisa dijaga. Akhirnya sekarang kejadian..”
Tiara tersinggung. Lalu melemparkan tasnya ke kepala dion hingga berdarah karena ujung besi cangkang.
“ loe tu yang ga sopan.
Gua ga pernah minta loe ajak. Gua juga nyesel pernah pergi sama orang
kayak loe. Kalau loe ga bisa terima sikap gua. Ngapain loe ngomong sama
gua. “
Dion menahan darah yang terus mengalir di keningnya.
“ ok.. gua muak sama loe. Gua muak banget.. gua harap gua ga pernah ketemu loe lagi. Orang aneh loe..”
Dion pun pergi
meninggalkan Tiara seorang diri. “ Pergi sana pengecut.. pergi jauh”
teriak tiara dan hari itu berganti. Tiara sedang menuju tempat dimana
anak anak akan belajar karena seminggu lagi mereka akan ujian persamaan
yang diadakan sebuah sekolah atas peraturan pemerintah. Preman-preman
pasar yang kehilangan penghasilan karena selalu di ganggu oleh Tiara
mulai menyusun rencana. Ketika Tiara berjalan. Mereka menabrak Tiara
hingga terluka parah. Tiara pingsan tak berdaya dan dibawah ke Rumah
sakit.
Dion sedang belajar di
kelas. Tiba tiba ia didatangi petugas keamaan kampus. Ketika dion keluar
ia menemukan anak anak pasar yang sedang menangis dan berkata.
“ Kak tiara sekarat di rumah sakit..”
Dion terkejut. Dari
cerita anak-anak Tiara mengalami kecelakaan yang disengaja. Polisi atas
perintah ayah Tiara langsung menangkapi para preman-preman pasar nakal
itu. Kini nasib Tiara Di ujung tanduk. Dion pun berkunjung bersama anak
anak pasar. Semua menangis . Dion duduk disamping Tiara yang sedang
pingsan tak sadarkan diri.
“ Tiara ,, bangun Tiara.. anak anak sangat ketakutan bila kamu terus tidur. Jangan bikin mereka cemas.” Ujar Dion.
Dokter mengatakan Tiara mengalami geger otak karena tabrakan tersebut. Dion
tanpa henti menjaga gadis itu, Hari berlanjut, dua hari setelah itu
Tiara sadar. Ia memanggil-manggil nama Dion. Dokter pun mendatangan
Dion.
“ Dion.. anak anak akan
ujian sebentar lagi. Gua mohon bimbing mereka selagi gua ga bisa dan
harapan mereka itu Cuma kita yang bisa, gua mohon..”
“ gua janji pasti gua lakukan. Tapi gua mohon loe juga harus sembuh. Karena mereka cemas dan takut kehilangan loe..”
Tiara tersenyum. Namun
senyuman itu menjadi terakhir. Ia pingsan kembali. Keadaan memburul.
Tapi Dion telah berjanji. Untuk membawa anak anak ikut dalam ujian. Janji itu ia tepatin.
“ adik adik sekalian
belajarlah dengan giat. Itu harapan Kak Tiara. Walau dia sedang sakit.
Dia mau kalian ga mikirin keadaan dia. Yang penting. Kalian terus
berusaha untuk mencapai mimpi kalian. Seperti mimpi kak Tiara sama
kalian. Menjadi orang yang baru dan punya masa depan serta mimpi yang
lebih baik”
Tangis anak anak yang
sedih dan gundah seolah-olah tak terbendung. Namun mereka tidak ingin
larut dalam kesedihan dan janji mereka untuk kak Tiara akan mereka
buktikan. Karena selama ini yang memberikan harapan kepada
mereka adalah Tiara . Ujian itu pun berlangsung, semua lulus dengan baik
dan berhasil mendapatkan Beasiswa. Dion bahagia mendapatkan kabar itu.
mereka pun pergi ke rumah sakit. Namun Tiara masih tertidur sejak kata
kata terakhirnya. Disamping Tiara dion berkata.
“ loe tau. Pas gua
ketemu loe. Gua itu seolah melihat sosok wonderwomen hidup yang ajaib.
Tapi sekarang kok gua ngerasa ngelihat nenek-nenek tua yang ga berdaya.
Walau gua sadar loe itu kasar dang ga punya hati kepada siapa pun yang
ga loe suka. Loe tetap wanita yang berhati nurani bersih. Hal itu
terlihat ketika gua melihat semangat anak anak yang mau berubah gara
gara loe. Tanpa elo ntah nasib mereka apakah akan berakhir menjadi kuli
bangungan. Pasar dan pedagang ikan. “
Dion terdiam air matanya berlinang
“ tapi loe ini sebuah
keajaiban. Kasar diluar namun lembut di dalam. Gua harap ketika loe
bangun. Gua bisa sekali sekali mendengar kata kata manis dari loe. Bukan
kata kata kasar dan luka yang semakin bertambah di wajah gua. Tiara gua
suka dan sayang sama loe..”
Dion tidak sadar Tiara sudah bangun sejak tadi. Lalu
Plak…
“ loe kira gua tidur ya.. gua uda sadar dari tadi. Loe katain gua nenek-nenek. Kurang ajar loe..”
“ Tiara…”
“ oh.. gua kangen sama loe..’” peluk Dion.
Tiara terdiam tanpa bicara. Dio hatinya berkata “ loe ini bagaikan my sassy boy..”
Tamat


0 comments:
Post a Comment